Lukisan gua berusia 67.800 tahun di Gua Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, ditetapkan sebagai seni cadas tertua di dunia berdasarkan riset BRIN, Griffith University, dan Southern Cross University yang dipublikasikan di jurnal Nature pada 21 Januari 2026. Temuan ini membuktikan Indonesia sebagai pusat seni simbolik manusia modern tertua yang dikenal umat manusia.
Pada 21 Januari 2026, dunia arkeologi dikejutkan oleh sebuah penemuan luar biasa dari Indonesia. Cap tangan di langit-langit Gua Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, resmi menjadi lukisan gua tertua yang pernah ditemukan manusia — berusia minimal 67.800 tahun. Temuan ini bukan hanya memecahkan rekor dunia, tetapi juga mengubah cara kita memahami asal-usul kreativitas manusia. Berikut lima fakta penting yang perlu Anda ketahui.
Fakta 1: Di Mana Lukisan Gua 67.800 Tahun Ini Ditemukan?

Lukisan gua 67.800 tahun tertua di dunia ditemukan di Gua Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, Indonesia. Temuan ini dipublikasikan di jurnal Nature (21 Januari 2026) oleh tim kolaborasi BRIN, Griffith University, dan Southern Cross University Australia.
Liang Metanduno bukan sebuah gua yang tersembunyi dari dunia. Penduduk lokal Pulau Muna telah lama mengenal dan mengunjungi gua batu gamping ini untuk mengagumi lukisan-lukisan berwarna merah, cokelat, dan hitam yang menggambarkan manusia terbang, perahu penuh penumpang, hingga pejuang berkuda — karya yang diperkirakan berusia beberapa ribu tahun saja.
Yang tidak disadari selama bertahun-tahun adalah sebuah cap tangan samar di langit-langit gua. Menurut Adhi Agus Oktaviana, Peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN, sampel dari lukisan tersebut diambil pada 2019 dan dibawa ke Australia untuk dianalisis di laboratorium. Hasilnya mengejutkan dunia ilmu pengetahuan.
| Detail Lokasi | Keterangan |
| Nama Gua | Liang Metanduno |
| Pulau | Pulau Muna, Sulawesi Tenggara |
| Negara | Indonesia |
| Jenis Batuan | Batu gamping (limestone) |
| Usia Minimum Lukisan | 67.800 tahun |
| Dipublikasikan | 21 Januari 2026, jurnal Nature |
Key Takeaway: Liang Metanduno adalah gua yang telah lama dikenal, namun cap tangan tertua di dunia tersembunyi di langit-langitnya selama puluhan ribu tahun hingga teknologi penanggalan modern mengungkapnya.
Fakta 2: Bagaimana Ilmuwan Membuktikan Usia 67.800 Tahun Ini?

Para peneliti menggunakan teknik laser-ablation uranium-series (LA-U-series) pada lapisan kalsit mikroskopis yang menutupi lukisan. Analisis menghasilkan tanggal 71.600 ± 3.800 tahun lalu, sehingga usia minimum lukisan ditetapkan 67.800 tahun. Metode ini dipublikasikan di jurnal Nature pada 21 Januari 2026.
Mengapa seni cadas di Asia Tenggara begitu lama diabaikan dalam diskusi arkeologi global? Salah satu alasannya teknis: sebagian besar lukisan gua di Eropa dibuat dari arang, yang bisa langsung diuji dengan karbon dating. Sementara itu, lukisan di Indonesia umumnya menggunakan oker — pigmen mineral berbasis oksida besi berwarna merah-cokelat — yang jauh lebih sulit dianalisis dengan metode konvensional.
Menurut Prof. Maxime Aubert dari Griffith University, teknik LA-U-series memungkinkan peneliti menganalisis lapisan kalsit ultratipin yang menempel di atas lukisan tanpa merusak karya itu sendiri. Lapisan kalsit ini terbentuk secara alami setelah lukisan dibuat, sehingga usianya menjadi batas minimum usia lukisan di bawahnya.
Hasil analisis: 71.600 ± 3.800 tahun. Dengan mengurangi margin kesalahan, usia minimum yang dapat diklaim secara ilmiah adalah 67.800 tahun — menjadikannya karya seni manusia tertua yang pernah diberi tanggal secara akurat.
Key Takeaway: Teknologi LA-U-series adalah kunci yang membuka rahasia usia seni cadas Indonesia — tanpa metode ini, cap tangan 67.800 tahun di Liang Metanduno mungkin masih dianggap hanya berusia ribuan tahun.
Fakta 3: Apa yang Membuat Lukisan Ini Unik Secara Global?

Lukisan gua Liang Metanduno berupa cap tangan (hand stencil) dengan ciri khas jari yang dibuat meruncing menyerupai cakar — gaya yang hingga kini hanya ditemukan di Sulawesi. Menurut Adam Brumm dari Griffith University, ini mencerminkan ekspresi simbolik matang dan mungkin menggambarkan hubungan erat antara manusia dan hewan purba.
Cap tangan ini tidak sekadar meletakkan telapak tangan di dinding lalu menyemprotkan pigmen. Ada modifikasi disengaja: ujung jari dibuat meruncing menyerupai cakar binatang. Adam Brumm, arkeolog dari Griffith University dan Australian Research Centre for Human Evolution (ARCHE), menyebut gaya unik ini sebagai narrow finger — sebuah karakteristik yang, hingga saat ini, hanya dijumpai pada seni cadas di Sulawesi.
Brumm berpendapat bahwa modifikasi jari ini bisa melambangkan keyakinan bahwa manusia dan hewan memiliki hubungan yang erat. Hal ini juga konsisten dengan temuan sebelumnya di Karst Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, di mana lukisan berusia 51.200 tahun menggambarkan therianthrope — sosok setengah manusia setengah hewan yang sedang berburu babi rusa. Ini menunjukkan bahwa tradisi seni simbolik di Sulawesi bukan kejadian tunggal, melainkan berlangsung selama puluhan ribu tahun.
- Teknik: semprot pigmen oker pada dinding batu — tangan ditekan ke permukaan, pigmen ditiup atau disemprotkan di sekelilingnya
- Ciri khas: ujung jari dimodifikasi menjadi runcing seperti cakar (narrow finger)
- Gaya ini eksklusif untuk Sulawesi — belum ditemukan di tempat lain di dunia
- Mencerminkan kognitif simbolik tinggi: kemampuan mengubah bentuk nyata menjadi representasi abstrak
Key Takeaway: “Cakar” pada cap tangan Liang Metanduno bukan sekadar estetika — ini adalah bukti bahwa manusia purba di Sulawesi sudah mampu berpikir simbolis dan metaforik 67.800 tahun yang lalu.
Fakta 4: Mengapa Penemuan Ini Penting bagi Indonesia dan Dunia?

Menurut Nature (2026), temuan ini membuktikan bahwa Indonesia — khususnya Sulawesi dan kawasan Wallacea — bukan sekadar jalur migrasi manusia menuju Australia, melainkan pusat budaya artistik mandiri tertua yang dikenal. Ini juga menantang pandangan Eurosentris tentang asal-usul kreativitas manusia modern.
Selama puluhan tahun, narasi dominan arkeologi berpusat di Eropa. Gua Chauvet dan Lascaux di Prancis, lukisan Altamira di Spanyol — nama-nama itulah yang mengisi buku teks sejarah seni. Namun kini, Indonesia dengan tegas menggugat posisi tersebut.
Menurut Adhi Agus Oktaviana (BRIN), temuan Liang Metanduno membuktikan bahwa Wallacea — kawasan kepulauan antara Paparan Sunda dan Paparan Sahul — bukan sekadar “jembatan” yang dilintasi manusia dalam perjalanan ke Australia, melainkan ruang hidup utama bagi manusia modern yang aktif berkarya dan mengekspresikan diri secara simbolis hampir 70.000 tahun lalu.
Prof. Maxime Aubert menegaskan bahwa Sulawesi merupakan salah satu pusat budaya artistik tertua dan paling berkelanjutan di dunia, dengan akar yang berasal dari fase paling awal hunian manusia di kawasan ini. Lebih jauh, temuan ini memberikan bukti langsung bahwa manusia sudah mampu menyeberangi lautan secara sengaja hampir 70.000 tahun lalu.
Dari perspektif Indonesia, penemuan ini juga memiliki implikasi besar bagi warisan budaya nasional. Sulawesi kini secara ilmiah terbukti menjadi salah satu tempat kelahiran seni manusia di bumi.
Key Takeaway: Lukisan gua Liang Metanduno adalah bukti bahwa akar kreativitas manusia modern ada di Indonesia — bukan di Eropa — dan ini mengubah cara dunia memandang sejarah peradaban.
Fakta 5: Bagaimana Posisi Temuan Ini Dibandingkan Situs Seni Cadas Lain di Dunia?
Lukisan Liang Metanduno (67.800 tahun) mengalahkan semua seni cadas yang pernah diberi tanggal secara ilmiah. Ia lebih tua 16.600 tahun dari lukisan Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan (51.200 tahun), dan sekitar 1.100 tahun lebih tua dari cap tangan Neanderthal di Spanyol, menurut National Geographic (2026).
Untuk memahami betapa luar biasanya angka 67.800 tahun, perlu diletakkan dalam perspektif. Nenek moyang Eropa modern baru mulai membuat lukisan gua terkenal sekitar 30.000–40.000 tahun yang lalu. Bahkan penemuan sebelumnya di Indonesia — yang sudah menggemparkan dunia — kini tersisihkan oleh rekor baru ini.
| Lokasi | Usia (Minimum) | Jenis |
| Liang Metanduno, Muna, Sulawesi Tenggara 🇮🇩 | 67.800 tahun | Cap tangan (hand stencil) |
| Cap tangan Neanderthal, Spanyol 🇪🇸 | ~66.700 tahun | Cap tangan |
| Karst Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan 🇮🇩 | 51.200 tahun | Lukisan figuratif (babi rusa) |
| Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan 🇮🇩 | ~40.000 tahun | Seni cadas figuratif |
| Gua Chauvet, Prancis 🇫🇷 | ~36.000 tahun | Lukisan hewan |
Sumber: Nature (2026), National Geographic (2026), Scientific American (2026)
Yang menarik dicatat oleh ABC News (2026) adalah bahwa identitas pembuat cap tangan ini belum sepenuhnya dipastikan. Ada kemungkinan karya ini dibuat oleh manusia modern (Homo sapiens) yang bermigrasi dari Afrika, namun tidak menutup kemungkinan pula dibuat oleh kelompok manusia purba lain seperti Denisovan yang diketahui menghuni kawasan Asia Tenggara pada periode tersebut. Penelitian lanjutan masih terus dilakukan.
Key Takeaway: Indonesia kini memiliki dua dari tiga situs seni cadas tertua yang pernah diberi tanggal di dunia — Liang Metanduno (67.800 tahun) dan Maros-Pangkep (51.200 tahun) — menjadikan Sulawesi episentrum seni manusia paling awal yang dikenal.
Baca Juga 5 Relief Borobudur Prambanan Cerita Tersembunyi yang Jarang Diketahui
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Di mana tepatnya lukisan gua 67.800 tahun tertua di dunia ditemukan?
Lukisan gua tertua di dunia ditemukan di Gua Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, Indonesia. Temuan ini dipublikasikan di jurnal Nature pada 21 Januari 2026 oleh tim kolaborasi BRIN, Griffith University, dan Southern Cross University.
Metode apa yang digunakan untuk menentukan usia lukisan gua Liang Metanduno?
Para peneliti menggunakan teknik laser-ablation uranium-series (LA-U-series) pada lapisan kalsit mikroskopis yang menutupi lukisan. Analisis menghasilkan tanggal 71.600 ± 3.800 tahun lalu, sehingga usia minimum lukisan ditetapkan 67.800 tahun.
Siapa peneliti yang menemukan lukisan gua tertua di dunia ini?
Penelitian ini merupakan kolaborasi internasional yang dipimpin oleh Adhi Agus Oktaviana (Peneliti BRIN), Prof. Maxime Aubert, dan Adam Brumm (keduanya dari Griffith University, Australia). Riset juga melibatkan Kementerian Kebudayaan RI, Universitas Hasanuddin, Universitas Halu Oleo, dan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Apa yang digambarkan dalam lukisan gua 67.800 tahun tersebut?
Lukisan gua tersebut berupa cap tangan (hand stencil) yang dibuat dengan teknik semprot pigmen oker pada dinding batu kapur. Ciri khasnya adalah ujung jari yang dimodifikasi menjadi runcing menyerupai cakar — gaya yang hingga kini hanya ditemukan di Sulawesi dan belum dijumpai di belahan dunia lain.
Apakah lukisan gua Liang Metanduno lebih tua dari lukisan gua di Eropa?
Ya. Menurut National Geographic (2026), lukisan Liang Metanduno sekitar 1.100 tahun lebih tua dari cap tangan di Spanyol yang diyakini dibuat oleh Neanderthal, dan 16.600 tahun lebih tua dari seni cadas di Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Lukisan terkenal Gua Chauvet di Prancis berusia sekitar 36.000 tahun — jauh lebih muda.
Apakah Indonesia memiliki situs seni cadas tertua lainnya selain di Muna?
Ya. Indonesia memiliki beberapa situs seni cadas prasejarah penting: Gua Liang Metanduno di Pulau Muna (67.800 tahun), Karst Maros-Pangkep di Sulawesi Selatan (51.200 tahun) termasuk lukisan babi rusa dan sosok therianthrope, serta seni cadas di kawasan Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur. Sulawesi khususnya kini diakui sebagai salah satu pusat seni manusia tertua di dunia.
Kesimpulan
Lima fakta di atas membuktikan bahwa lukisan gua 67.800 tahun di Liang Metanduno, Pulau Muna, adalah jauh lebih dari sekadar rekor dunia. Ia adalah jendela menuju kesadaran simbolik manusia purba, bukti bahwa Sulawesi merupakan salah satu tempat lahirnya seni di bumi, dan pengingat bahwa warisan budaya Indonesia menyimpan keajaiban yang belum sepenuhnya terungkap.
📬 Ingin mengikuti perkembangan terbaru History, Culture, and Heritage? Subscribe ke newsletter EskiCanakkale.com untuk mendapatkan update artikel terbaru langsung di inbox Anda.
Tentang Penulis
Tim Redaksi EskiCanakkale.com — Spesialis History, Culture, and Heritage
Bagaimana artikel ini dibuat: Kami meriset langsung dari jurnal sumber primer (Nature, 2026), laporan BRIN, dan liputan media tier-1 (Kompas, National Geographic, Scientific American). Setiap fakta dikutip dari sumber terverifikasi dengan tanggal publikasi yang jelas.
Mengapa artikel ini penting: Penemuan lukisan gua 67.800 tahun di Indonesia adalah salah satu berita arkeologi paling signifikan abad ini — dan setiap pembaca Indonesia berhak memahaminya secara akurat, dalam bahasa yang mudah dipahami, tanpa sensasionalisme.
Referensi
- Adhi Agus Oktaviana, Maxime Aubert, et al. (2026). Rock art from at least 67,800 years ago in Sulawesi. Nature, 21 Januari 2026.
- Kompas.com (22 Januari 2026). Indonesia Pecahkan Rekor Lagi, Lukisan Gua Sulawesi Berusia 67.800 Tahun Tertua di Dunia.
- National Geographic (21 Januari 2026). The world’s oldest rock art discovered in Indonesia.
- Scientific American (21 Januari 2026). Oldest cave art ever found discovered in Indonesia.
- ScienceAlert (21 Januari 2026). World’s Oldest Rock Art Discovered in Indonesian Cave.