Situs Sangiran mencakup area seluas 56 km² yang mengandung lapisan geologis dengan catatan evolusi manusia dan lingkungan selama 2,4 juta tahun, menjadikannya salah satu lokasi paling penting untuk memahami evolusi manusia. Menurut laporan UNESCO (1995), Sangiran diakui oleh para ilmuwan sebagai salah satu situs terpenting di dunia untuk mempelajari manusia fosil, setara dengan Zhoukoudian (China), Willandra Lakes (Australia), Olduvai Gorge (Tanzania), dan Sterkfontein (Afrika Selatan), bahkan lebih produktif dalam penemuan fosil dibandingkan situs-situs tersebut.
Namun, apa sebenarnya yang membuat fosil Sangiran 2 juta tahun terungkap begitu istimewa? Bagaimana para ilmuwan mengungkap rahasia kehidupan manusia purba yang hidup di wilayah Nusantara ribuan abad lalu? Pertanyaan-pertanyaan ini telah memicu penelitian intensif selama hampir satu abad, menghasilkan penemuan-penemuan yang mengubah pemahaman kita tentang asal-usul umat manusia.
Penelitian terkini pada tahun 2020 dan 2025 telah mengungkap fakta-fakta mengejutkan tentang usia sebenarnya fosil Sangiran, perilaku berburu Homo erectus, dan bahkan penemuan fosil dari dasar laut yang menunjukkan penyebaran mereka di Sundaland. Artikel ini akan mengungkap rahasia fosil Sangiran 2 juta tahun terungkap berdasarkan penelitian ilmiah terkini dan penemuan-penemuan penting yang mengubah paradigma kita tentang evolusi manusia di Asia Tenggara.
Jawaban Langsung: Apa Rahasia Fosil Sangiran?

Situs Sangiran mengungkapkan lebih dari 100 individu Homo erectus yang berusia setidaknya 1,5 juta tahun, menunjukkan proses evolusi manusia selama periode Pleistosen, khususnya dari 1,5 hingga 0,4 juta tahun yang lalu. Penelitian penanggalan terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Science (2020) oleh tim yang dipimpin Shuji Matsu’ura menggunakan metode kombinasi fission-track dan uranium-lead dating mengungkapkan bahwa fosil Homo erectus tertua di Sangiran kemungkinan berusia sekitar 1,3 juta tahun dan kurang dari 1,5 juta tahun, lebih muda 200.000 tahun dari perkiraan sebelumnya.
Penemuan paling mutakhir pada Mei 2025 oleh arkeolog Harold Berghuis dari Universitas Leiden mengungkap fosil Homo erectus dari dasar laut di Selat Madura, termasuk fragmen tengkorak dan sisa-sisa 36 spesies vertebrata yang berusia sekitar 140.000 tahun. Temuan ini mengubah pemahaman bahwa Homo erectus Jawa hidup terisolasi, menunjukkan bahwa mereka menyebar di dataran rendah Sundaland dan kemungkinan berinteraksi dengan kelompok hominin lain.
Sejarah Penemuan Fosil Sangiran yang Mengubah Ilmu Pengetahuan

Perjalanan penemuan fosil di Sangiran dimulai pada tahun 1883 ketika paleoantropolog Belanda Eugène Dubois melakukan penelitian lapangan awal. Namun, Dubois tidak menemukan banyak fosil yang signifikan di Sangiran sehingga mengalihkan perhatiannya ke Trinil di Jawa Timur, tempat ia menemukan “Java Man” pertama pada tahun 1891.
Tahun 1934 menandai titik balik penting dalam sejarah Sangiran. Antropolog Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald mulai meneliti area Sangiran secara sistematis. Selama ekskavasi antara 1936 hingga 1941, fosil-fosil leluhur manusia pertama yang dikenal, Pithecanthropus erectus atau yang sekarang diklasifikasikan ulang sebagai bagian dari spesies Homo erectus, ditemukan di sini.
Menurut data dari peterbrown-palaeoanthropology.net, fosil kranium parsial pertama H. erectus (Sangiran 2) ditemukan pada tahun 1937, dengan Sangiran 4 (kranium parsial dengan langit-langit dan sebagian besar gigi rahang atas) ditemukan pada tahun 1939. Hingga saat ini, sekitar 80 fosil hominin telah dikatalogkan dari situs ini, termasuk 10 kranium parsial dan 14 spesimen mandibular/maksila. UNESCO mencatat bahwa ekskavasi dari 1936 hingga 1941 menghasilkan 50 fosil Meganthropus palaeo dan Pithecanthropus erectus/Homo erectus — setengah dari semua fosil hominin yang dikenal di dunia pada saat itu.
Penemuan paling lengkap adalah Sangiran 17, yang ditemukan pada tahun 1969 oleh Tukimin dan Towikromo di Pucung, Gondangrejo, Karanganyar. Menurut Smithsonian Institution’s Human Origins Program, ini adalah tengkorak Homo erectus paling utuh yang pernah ditemukan di Asia Timur. Fosil yang berusia sekitar 700.000-800.000 tahun ini memiliki kapasitas kranial diperkirakan 1004 cc dan saat ini disimpan di Geological Research and Development Centre (GRDC) di Bandung. Sangiran 17 menjadi referensi penting untuk rekonstruksi wajah Homo erectus dan replikanya dipajang di museum-museum paleoantropologi terkenal di seluruh dunia.
Teknologi Penanggalan Modern Mengungkap Usia Sebenarnya

Salah satu rahasia fosil Sangiran 2 juta tahun terungkap melalui penelitian penanggalan yang dipublikasikan dalam jurnal Science pada 10 Januari 2020. Tim yang dipimpin oleh paleoantropolog Shuji Matsu’ura dari National Museum of Nature and Science di Jepang menggunakan metode kombinasi yang belum pernah dicoba sebelumnya pada material vulkanik di sedimen Sangiran.
Tim peneliti menganalisis butiran mineral vulkanik atau zircon dari lapisan sedimen di atas, di bawah, dan di dalam lapisan tempat fosil H. erectus ditemukan. Dua teknik penanggalan digunakan secara bersamaan: uranium-lead dating (untuk mengukur waktu sejak zircon mengkristal) dan fission-track dating (untuk memperkirakan waktu sejak letusan gunung berapi mendepositkan zircon di Sangiran).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa fosil Homo erectus tertua di Sangiran kemungkinan berusia sekitar 1,3 juta tahun dan kurang dari 1,5 juta tahun, bukan 1,8 juta tahun seperti yang diperkirakan oleh Carl Swisher pada tahun 1994. Menurut laporan dari Phys.org (2020), estimasi baru ini menggeser tanggal kedatangan H. erectus sekitar 300.000 tahun lebih muda dari perkiraan sebelumnya.
Revisi usia ini memiliki implikasi penting. Dengan fosil H. erectus di Georgia berusia 1,8 juta tahun dan di China berusia 1,6 juta tahun, hasil penelitian ini memperkuat teori bahwa Homo erectus pertama kali muncul di Afrika dan kemudian bermigrasi ke Asia, bukan sebaliknya.
Berdasarkan penanggalan Argon-Argon yang dikutip dari peterbrown-palaeoanthropology.net, lapisan geologis di Sangiran terdiri dari beberapa formasi penting:
- Formasi Sangiran (Pucangan) – Berusia 1,92-1,58 juta tahun, lapisan tertua dengan fosil hominin
- Grenzbank Zone – Lapisan kaya fosil yang memisahkan formasi Sangiran dan Bapang
- Formasi Bapang (Kabuh) – Berusia 1,58-1,0 juta tahun, sumber sebagian besar fosil hominin
- Formasi Notupuro – Lapisan paling atas berusia sekitar 780.000 tahun
Fosil-fosil tertua tampaknya berasal dari bagian atas Formasi Sangiran, namun sebagian besar fosil hominin berasal dari Formasi Bapang yang lebih muda.
Penemuan Terbaru dari Dasar Laut Mengubah Paradigma

Penelitian paling mutakhir yang dipublikasikan pada Mei 2025 dalam jurnal Quaternary Environments and Humans membawa dimensi baru dalam pemahaman kita tentang Homo erectus di Indonesia. Arkeolog Harold Berghuis dari Universitas Leiden memimpin tim internasional yang menganalisis fosil Homo erectus dari dasar laut di Selat Madura yang ditemukan selama operasi pengerukan pada tahun 2014-2015.
Menurut laporan Universitas Leiden (Mei 2025), lebih dari 6.000 spesimen fosil dikumpulkan dari permukaan lokasi reklamasi, mewakili fauna vertebrata beragam termasuk ikan, reptil, dan mamalia. Penemuan ini mencakup dua fragmen tengkorak Homo erectus dan sisa-sisa 36 spesies vertebrata yang berusia sekitar 140.000 tahun — periode yang bertepatan dengan catatan keberadaan terakhir Homo erectus di Jawa.
Fosil-fosil ini berasal dari lembah sungai yang tenggelam, yang terisi pasir sungai seiring waktu. Berdasarkan penanggalan OSL (Optically Stimulated Luminescence), tim menemukan usia 162 ± 31 ka dan 119 ± 27 ka, yang menghubungkan pengisian kembali lembah dengan periode permukaan laut rendah selama MIS 6 (Marine Isotope Stage 6) dan transgresi berikutnya.
Penemuan ini mengubah pemahaman bahwa Homo erectus Jawa hidup terisolasi dalam waktu lama. Menurut Berghuis yang dikutip Phys.org (2025), fosil-fosil baru menunjukkan bahwa Homo erectus Jawa menyebar di dataran rendah Sundaland selama periode dengan permukaan laut lebih rendah — sekitar 100 meter lebih rendah dari saat ini. Mereka kemungkinan menyebar sepanjang sungai-sungai besar.
“Di sini mereka memiliki air, kerang, ikan, tanaman yang dapat dimakan, biji-bijian, dan buah sepanjang tahun,” kata Berghuis. “Kami sudah tahu bahwa Homo erectus mengumpulkan kerang sungai. Di antara temuan baru kami adalah bekas potongan pada tulang kura-kura air dan sejumlah besar tulang bovid yang patah, yang menunjukkan perburuan dan konsumsi sumsum tulang.”
Yang paling mengejutkan, temuan menunjukkan bahwa Sundaland Homo erectus aktif memburu bovid yang sehat dan kuat — perilaku yang tidak ditemukan pada populasi Homo erectus Jawa sebelumnya, tetapi dikenal dari spesies manusia yang lebih modern di daratan Asia. Menurut Berghuis, “Homo erectus mungkin menyalin praktik ini dari populasi tersebut. Ini menunjukkan mungkin ada kontak antara kelompok hominin ini, atau bahkan pertukaran genetik.”
Penelitian ini melibatkan kolaborasi antara peneliti dari Universitas Leiden (Belanda), Universitas Tokyo (Jepang), Universitas Twente (Belanda), Universitas Shandong (China), Universitas Wollongong (Australia), dan Universitas Griffith (Australia). Seluruh fosil yang ditemukan saat ini disimpan dan dirawat di Museum Geologi Bandung.
Struktur Geologis Unik yang Melestarikan Sejarah 2 Juta Tahun

Fitur penting dari situs Sangiran adalah geologi area tersebut yang unik. Menurut UNESCO World Heritage Centre, kubah geologis (Sangiran Dome) awalnya terbentuk jutaan tahun yang lalu melalui pengangkatan tektonik. Kubah tersebut kemudian tererosi oleh sungai Cemoro yang mengalir ke Bengawan Solo, memperlihatkan lapisan-lapisan di dalamnya yang kaya akan catatan arkeologis.
Lapisan-lapisan geologis di Sangiran melestarikan catatan evolusi manusia dan hewan selama sekitar 2,4 juta hingga 0,4 juta tahun yang lalu. Menurut UNESCO, material manusia, fauna, dan alat-alat batu diendapkan dalam lapisan stratigrafi yang tidak terputus, memberikan konteks yang jelas untuk memahami kehidupan prasejarah. Makrofosil yang muncul berlimpah dari lapisan-lapisan ini memberikan catatan yang detail dan jelas tentang banyak elemen fauna.
Situs ini mengungkapkan lebih dari 100 individu Homo erectus yang berusia setidaknya 1,5 juta tahun, menunjukkan proses evolusi manusia selama periode Pleistosen. Menurut sumber resmi UNESCO, Sangiran adalah salah satu “laboratorium ekosistem lapangan yang lengkap”, terdiri dari aspek geologis, paleontologis, paleobotani, dan arkeologis.
Yang membuat Sangiran istimewa adalah hanya sekitar 5% dari total area 56 km² yang telah digali, menunjukkan potensi penemuan masa depan yang sangat besar. Situs ini terletak sekitar 15 kilometer di utara kota Surakarta (Solo) di lembah Sungai Solo, secara administratif terbagi antara 2 kabupaten: Sragen (kecamatan Gemolong, Kalijambe, dan Plupuh) dan Karanganyar (kecamatan Gondangrejo).
Bukti Teknologi dan Perilaku Berburu yang Canggih

Selain fosil manusia, ekskavasi di Sangiran mengungkap berbagai alat batu yang membuktikan bahwa rahasia fosil Sangiran 2 juta tahun terungkap juga mencakup bukti inovasi teknologi. Menurut Indonesia Travel (sumber resmi pariwisata Indonesia), situs ini terkenal setelah penemuan sisa-sisa Homo erectus dan artefak batu terkait yang dikenal sebagai “Sangiran flake industry” pada tahun 1930-an.
Lebih dari 100.000 artefak alat batu ditemukan di berbagai situs terkait, menunjukkan penggunaan teknologi yang berkelanjutan selama ratusan ribu tahun. Homo erectus di Sangiran juga memproduksi alat dari cangkang kerang di Sangiran dan Trinil, menunjukkan adaptasi dan inovasi mereka dalam menggunakan material yang tersedia.
Penemuan dari Selat Madura pada 2025 mengungkap dimensi baru perilaku Homo erectus. Menurut laporan yang dipublikasikan dalam Quaternary Environments and Humans, analisis assemblage vertebrata dari situs Selat Madura mencakup 36 spesies yang terbagi dalam 11 ordo, didominasi oleh sisa-sisa bovid besar (Bos palaeosondaicus dan Bubalus palaeokerabau), serta elephantoid (Stegodon trigonocephalus dan Elephas sp.).
Komunitas herbivora yang mendominasi ini menunjukkan kondisi vegetasi terbuka dan iklim yang relatif kering, sesuai dengan catatan polen Jawa dari Pleistosen Tengah. Keberadaan Duboisia santeng, Epileptobos groeneveldtii, dan Axis lydekkeri di antara herbivora terestrial Selat Madura sangat menarik karena memberikan wawasan tentang ekosistem Sundaland pada periode tersebut.
Yang paling penting, bukti bekas pemotongan pada tulang kura-kura air dan sejumlah besar tulang bovid yang patah menunjukkan bahwa Homo erectus di Sundaland aktif memburu hewan yang sehat dan kuat — perilaku yang tidak ditemukan pada populasi Homo erectus Jawa sebelumnya tetapi dikenal dari spesies manusia yang lebih modern di daratan Asia.
Sangiran dan Teori “Out of Africa”
Fosil Sangiran memberikan bukti krusial yang mendukung teori “Out of Africa”, yang menunjukkan bahwa manusia purba pertama kali berevolusi di Afrika sebelum bermigrasi ke Asia dan wilayah lainnya.
Fosil di Sangiran, China (Zhoukoudian), dan Georgia (Dmanisi) memiliki kesamaan, membuktikan bahwa manusia purba bergerak secara bertahap melintasi berbagai wilayah. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa estimasi usia baru mengindikasikan bahwa dispersi H. erectus tidak terjadi dalam satu gelombang besar dari Afrika ke Asia dimulai lebih dari 2 juta tahun yang lalu.
Fosil H. erectus dari lapisan sedimen Sangiran yang lebih tua terlihat mirip dengan temuan H. erectus Afrika dari setidaknya 1,7 juta tahun yang lalu. Fosil H. erectus Sangiran yang lebih muda memiliki kotak otak yang lebih besar dan gigi yang lebih kecil seperti fosil H. erectus China yang berusia sekitar 780.000 tahun yang lalu.
Pola gigi menunjukkan asal demik yang berbeda untuk populasi H. erectus awal yang diwakili di Sangiran dan populasi kemudian yang diwakili di Zhoukoudian. Kedua populasi Asia timur ini, terpisah 5.000 km dan hampir 800.000 tahun, mungkin memiliki asal yang terpisah dari populasi Afrika/Eurasia barat yang berbeda.
Museum Sangiran: Jendela Menuju Masa Lalu
Mengakui signifikansi globalnya, pemerintah Indonesia menetapkan Sangiran sebagai Daerah Cagar Budaya (Protected Cultural Area) seluas 56 km² melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 070/1977. Pada 5 Desember 1996, UNESCO mengakui Sangiran sebagai Situs Warisan Dunia dengan kode #593 dalam daftar Warisan Dunia.
Museum Manusia Purba Sangiran yang sederhana telah ada selama beberapa dekade sebelum museum modern yang berfungsi dengan baik dibuka pada Desember 2011. Menurut Wikipedia, bangunan baru ini adalah museum modern yang berisi tiga hall utama dengan pameran ekstensif dan diorama mengesankan dari area Sangiran seperti yang diyakini sekitar 1 juta tahun yang lalu.
Hall Pertama berisi beberapa diorama yang memberikan informasi tentang manusia purba dan hewan yang ada di situs Sangiran sekitar 1 juta tahun yang lalu.
Hall Kedua, yang lebih luas, menyajikan materi detail tentang berbagai fosil yang ditemukan di Sangiran dan sejarah eksplorasi di situs tersebut.
Hall Ketiga dalam presentasi yang mengesankan, berisi diorama besar yang memberikan pandangan menyeluruh area Sangiran, dengan gunung berapi seperti Gunung Lawu di latar belakang dan manusia serta hewan di latar depan, seperti yang dibayangkan sekitar 1 juta tahun yang lalu. Beberapa presentasi di hall ketiga ini menggunakan karya pematung paleontologi terkenal internasional Elisabeth Daynes.
Akses ke Museum Sangiran diperoleh dengan berkendara sekitar 15 km ke utara dari Surakarta di sepanjang jalan utama menuju kota Purwodadi di Jawa Tengah. Perjalanan dari pusat kota Solo memakan waktu sekitar 45 menit hingga 1 jam menggunakan mobil pribadi, taksi, layanan ride-hailing, atau bus lokal.
Museum ini tutup pada hari Senin. Pada awal 2013, beberapa pusat lain sedang dalam konstruksi sehingga diharapkan pada 2014 akan ada empat pusat di lokasi berbeda dalam keseluruhan situs Sangiran: Krikilan (situs yang ada dengan pusat pengunjung utama dan museum), Ngebung (berisi sejarah penemuan situs Sangiran), Bukuran (memberikan informasi tentang penemuan fosil manusia prasejarah di Sangiran), dan Dayu.
Tantangan Konservasi dan Perdagangan Ilegal Fosil
Pengembangan situs Sangiran secara keseluruhan tidak lepas dari kontroversi. Menurut Wikipedia, penggalian yang tidak terkontrol dan perdagangan ilegal fosil telah terjadi di berbagai kesempatan sejak situs pertama kali ditemukan pada tahun 1930-an.
Untuk periode yang cukup lama, penduduk desa di area tersebut sering menggali dan menjual fosil kepada pembeli lokal. Setelah pemberlakuan Undang-Undang Nasional No. 5 tahun 1992 tentang benda cagar budaya, ada kontrol yang lebih kuat terhadap aktivitas-aktivitas ini. Namun, aktivitas ilegal kadang-kadang terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Pada tahun 2010, seorang warga negara Amerika yang mengaku sebagai ilmuwan ditangkap dekat Sangiran saat bepergian dalam truk yang berisi 43 jenis fosil berbeda dalam kotak dan karung dengan perkiraan nilai pasar $2 juta. Insiden yang dilaporkan oleh Wikipedia ini menyoroti pentingnya perlindungan dan pengawasan ketat terhadap warisan budaya yang tak ternilai ini.
Baru-baru ini, ada diskusi di media Indonesia tentang cara pengembangan situs Sangiran yang gagal membawa manfaat nyata yang signifikan bagi komunitas pedesaan di area lokal. Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih inklusif dalam pengelolaan situs warisan dunia yang menguntungkan masyarakat setempat, terutama petani lokal yang telah membantu menemukan banyak fosil penting seperti Tukimin dan Towikromo yang menemukan Sangiran 17.
Baca Juga Museum VR 2026 Bawa Artefak Hidup Depan Mata
Pertanyaan Umum: Rahasia Fosil Sangiran 2 Juta Tahun Terungkap
Berapa usia fosil tertua yang ditemukan di Sangiran?
Berdasarkan penelitian penanggalan terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Science oleh Shuji Matsu’ura et al. (10 Januari 2020), fosil Homo erectus tertua di Sangiran kemungkinan berusia sekitar 1,3 juta tahun dan kurang dari 1,5 juta tahun. Ini lebih muda sekitar 200.000-300.000 tahun dari perkiraan sebelumnya yang menyebutkan 1,8 juta tahun. Lapisan geologis di situs ini mencakup periode dari 2,4 juta hingga 0,4 juta tahun yang lalu, menjadikannya salah satu catatan paling lengkap tentang evolusi manusia.
Mengapa Sangiran begitu penting untuk memahami evolusi manusia?
Menurut laporan UNESCO (1995), Sangiran diakui oleh para ilmuwan sebagai salah satu situs terpenting di dunia untuk mempelajari manusia fosil, setara dengan Zhoukoudian (China), Willandra Lakes (Australia), Olduvai Gorge (Tanzania), dan Sterkfontein (Afrika Selatan), bahkan “lebih produktif dalam penemuan fosil dibandingkan situs-situs tersebut.” Dengan lebih dari 100 individu Homo erectus yang ditemukan (sekitar 80 fosil hominin yang dikatalogkan), Sangiran menyediakan setengah dari semua fosil hominin yang dikenal di dunia pada masa ekskavasi utama dan memberikan wawasan unik tentang evolusi, adaptasi, dan migrasi manusia purba.
Apa penemuan terbaru dari penelitian Sangiran?
Penelitian paling mutakhir dipublikasikan pada Mei 2025 dalam jurnal Quaternary Environments and Humans oleh Harold Berghuis et al. dari Universitas Leiden. Tim menemukan fosil Homo erectus dari dasar laut di Selat Madura, termasuk dua fragmen tengkorak dan sisa-sisa 36 spesies vertebrata yang berusia sekitar 140.000 tahun. Lebih dari 6.000 spesimen fosil dikumpulkan dari lokasi pengerukan. Penemuan ini menunjukkan bahwa Homo erectus Jawa tidak hidup terisolasi tetapi menyebar di dataran rendah Sundaland, dengan bukti perburuan aktif bovid yang kuat dan kemungkinan kontak dengan kelompok hominin lain.
Bagaimana cara mengunjungi Museum Sangiran?
Museum Manusia Purba Sangiran terletak sekitar 15 kilometer di utara Surakarta (Solo) di lembah Sungai Solo, Jawa Tengah. Dari pusat kota Solo, perjalanan ke Sangiran memakan waktu sekitar 45 menit hingga 1 jam. Pengunjung dapat bepergian dengan mobil pribadi, taksi, layanan ride-hailing (Grab/Gojek), atau bus lokal menuju Purwodadi. Museum tutup pada hari Senin, jadi pastikan merencanakan kunjungan sesuai jadwal operasional. Museum modern dibuka pada Desember 2011 dengan tiga hall utama yang menampilkan fosil, diorama, dan sejarah penemuan.
Apa yang membuat fosil Sangiran berbeda dari situs lain?
Sangiran memiliki keunggulan unik berupa struktur geologis kubah (Sangiran Dome) yang terbentuk melalui pengangkatan tektonik, kemudian tererosi untuk memperlihatkan lapisan-lapisan stratigrafi yang tidak terputus selama 2,4 juta tahun. Menurut UNESCO, ini memberikan konteks yang jelas dan lengkap untuk memahami evolusi manusia dan lingkungan. Selain itu, hanya sekitar 5% dari area seluas 56 km² yang telah digali, menunjukkan potensi penemuan masa depan yang sangat besar. Sangiran juga menghasilkan Sangiran 17, tengkorak Homo erectus paling lengkap yang pernah ditemukan di Asia Timur menurut Smithsonian Institution.
Apakah fosil yang dipajang di museum adalah fosil asli?
Museum Manusia Purba Sangiran menampilkan kombinasi fosil asli dan replika. Fosil yang dikumpulkan oleh von Koenigswald sebelum Perang Dunia II disimpan di Senckenberg Forschungsinstitut di Frankfurt, Jerman. Koleksi setelah Perang Dunia II disimpan di Geological Research and Development Centre (GRDC) di Bandung dan Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Sangiran 17, tengkorak paling lengkap yang ditemukan pada tahun 1969, disimpan di GRDC dan replikanya dipajang di museum-museum paleoantropologi terkenal di seluruh dunia, termasuk di Sangiran.
Kesimpulan
Rahasia fosil Sangiran 2 juta tahun terungkap melalui kombinasi penelitian paleontologi yang teliti, teknologi penanggalan modern, dan dedikasi para ilmuwan dari seluruh dunia. Dari penemuan pertama oleh Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald pada tahun 1930-an hingga penelitian dasar laut terbaru oleh Harold Berghuis pada Mei 2025, setiap penemuan baru menambah pemahaman kita tentang bagaimana Homo erectus hidup, beradaptasi, dan menyebar di Asia Tenggara.
Penelitian penanggalan uranium-lead dan fission-track oleh Shuji Matsu’ura et al. yang dipublikasikan dalam Science (2020) mengungkapkan bahwa fosil Homo erectus tertua di Sangiran berusia sekitar 1,3 juta tahun, lebih muda dari perkiraan sebelumnya. Penemuan fosil dari dasar laut Selat Madura yang dipublikasikan dalam Quaternary Environments and Humans (2025) menunjukkan bahwa Homo erectus menyebar di Sundaland sekitar 140.000 tahun yang lalu dengan bukti perburuan aktif dan kemungkinan kontak dengan kelompok hominin lain.
Situs ini bukan hanya jendela ke masa lalu, tetapi juga laboratorium hidup yang terus menghasilkan wawasan baru tentang evolusi manusia. Dengan lebih dari 100 fosil Homo erectus yang telah ditemukan dan hanya sekitar 5% dari area total 56 km² yang telah digali, Sangiran menjanjikan lebih banyak penemuan revolusioner di masa depan.
Bagi siapa pun yang tertarik dengan asal-usul umat manusia, perjalanan ke Sangiran adalah pengalaman yang mengubah perspektif tentang tempat kita dalam sejarah evolusi yang panjang dan kompleks.
Ingin mengeksplorasi lebih lanjut tentang warisan budaya Indonesia? Kunjungi Museum Manusia Purba Sangiran yang terletak 15 km di utara Surakarta (tutup hari Senin) dan saksikan sendiri bukti fisik dari perjalanan evolusi manusia yang dimulai jutaan tahun yang lalu. Bagikan artikel ini untuk menyebarkan pengetahuan tentang pentingnya Sangiran sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO #593 yang harus kita lestarikan bersama.
Penulis: Tim Editorial EskiCanakkale.com adalah kelompok penulis dengan keahlian dalam sejarah, budaya, dan warisan Indonesia. Artikel ini disusun berdasarkan penelitian ilmiah terkini dari jurnal Science (2020) dan Quaternary Environments and Humans (2025), serta sumber-sumber resmi UNESCO dan institusi akademis terpercaya.
Referensi
- UNESCO World Heritage Centre – Sangiran Early Man Site.
- Matsu’ura, S., et al. (2020). “Age control of the first appearance datum for Javanese Homo erectus in the Sangiran area.” Science, 367(6474):210-214. DOI: 10.1126/science.aau8556
- Berghuis, H.W.K., et al. (2025). “A late Middle Pleistocene lowstand valley of the Solo River on the Madura Strait seabed, geology and age of the first hominin locality of submerged Sundaland.” Quaternary Environments and Humans. DOI: 10.1016/j.qeh.2024.100042
- Berghuis, H.W.K., et al. (2025). “The late Middle Pleistocene Homo erectus of the Madura Strait, first hominin fossils from submerged Sundaland.” Quaternary Environments and Humans. DOI: 10.1016/j.qeh.2024.100052
- Smithsonian Institution Human Origins Program – Sangiran 17.
- Indonesia Travel – Sangiran Early Man Site.
- Sangiran – Wikipedia.
- Peterbrown-palaeoanthropology.net – Sangiran Homo erectus.
