Ringkasan: Sepanjang 2026, Wayang Topeng Malangan mendapat sorotan lewat dua jalur sekaligus: proyek fotografi “Malangan: Warisan yang Menolak Punah” oleh Diego Zapatero, dan workshop digitalisasi oleh Disbudpar Jawa Timur. Keduanya sama-sama berangkat dari kekhawatiran yang sama — tradisi ini nyaris hilang sejak 1970-an dan kini bertumpu pada segelintir komunitas yang bertahan.
Apa itu Wayang Topeng Malangan?

Wayang Topeng Malangan adalah seni drama-tari khas Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang dilakonkan lewat topeng kayu dan diiringi gamelan sambil dinarasikan seorang dalang. Menurut Media Indonesia, kesenian ini sudah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda nasional pada 2014.
Ceritanya berakar dari siklus Panji, kisah rakyat Jawa Timur yang menurut Koran Jakarta telah masuk daftar Memory of the World UNESCO. Karena itu, setiap topeng dan lakon yang dipentaskan bukan sekadar hiburan, melainkan warisan naratif lintas generasi.
Mengapa Dokumentasi 12 Komunitas Ini Penting di 2026?

Populasi komunitas Wayang Topeng Malangan menyusut tajam sejak dekade 1970-an. Media Indonesia mencatat kelompok-kelompok di Dampit, Precet, Wajak, Ngajum, Jatiguwi, Senggreng, Puncangsanga, Jabung, dan Kedungmonggo perlahan menghilang, hingga pada 2021 hanya tersisa dua yang aktif: Jabung dan Kedungmonggo.
Titik baliknya datang lewat proyek “Malangan: Warisan yang Menolak Punah” (judul internasional: A Legacy That Refuses to Vanish). Riset visual ini justru menemukan dan mendokumentasikan 12 komunitas aktif penjaga tradisi di wilayah Malang, jauh lebih banyak dari catatan 2021. Ini sinyal bahwa sebagian komunitas berhasil bertahan atau tumbuh kembali, meski datanya belum sepenuhnya terpetakan di sumber publik.
Paralel dengan itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur menggelar workshop digitalisasi warisan budaya pada 10–11 Februari 2026. Kepala UPT Taman Budaya Jawa Timur, Deddy Hariyono, menyampaikan bahwa pelestarian budaya hari ini tidak cukup lewat pementasan saja, tapi juga harus didokumentasikan agar bisa diakses lintas generasi dan lintas wilayah.
Proyek Fotografi Diego Zapatero: Mengembalikan Ingatan ke Pemiliknya

Fotografer sekaligus antropolog visual asal Spanyol, Diego Zapatero, menghabiskan waktu bertahun-tahun tinggal bersama komunitas di Indonesia untuk proyek ini, menurut Parents Guide. Ia bukan pendatang baru di ranah ini — sebelumnya Zapatero pernah memamerkan karya bertema kisah Panji di Galeri Nasional Indonesia bersama Kedutaan Besar Spanyol, dalam rangka 60 tahun hubungan diplomatik Spanyol-Indonesia.
Sebelum pameran di Jakarta dibuka, Zapatero lebih dulu menggelar acara serah-terima di Sanggar Asmorobangun, Pakisaji, Malang, pada 23 Agustus 2026. Dalam acara itu, ia menyerahkan langsung buku buatan tangan berisi sejarah, ritual, dan kesaksian warga kepada para maestro dan pemimpin dari 12 komunitas.
Prinsip proyek ini disampaikan lewat satu kalimat kunci: ingatan tidak pernah menjadi milik orang luar, ia harus selalu kembali ke asalnya. Masyarakat setempat kemudian secara mandiri mengoordinasikan pameran versi mereka sendiri di desa, sebelum karya yang sama dipamerkan di Jakarta.
Pameran “Malangan: A Legacy That Refuses to Vanish” berlangsung di Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta, 3 September – 4 Oktober 2026. Proyek ini didukung Kedutaan Besar Spanyol di Indonesia, AECID, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, serta jaringan riset akademik dari Universidad de Valladolid, GIR IDINTAR, dan Cofradía del Santísimo Sacramento.
Kepala Unit Pengelola Museum Seni, Sri Kusumawati, menyebut pameran ini sebagai ruang perjumpaan antara seni, sejarah, dan ingatan kolektif masyarakat, dengan harapan kisah para maestro dikenal lebih luas.
Jejak Satu Padepokan: Dari Mbah Serun hingga Handoyo

Untuk memahami skala tantangan regenerasi, ada baiknya melihat satu garis keturunan yang terdokumentasi jelas: Padepokan Asmorobangun di Dusun Kedungmonggo, Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji.
Menurut Detik, kesenian di padepokan ini dipopulerkan pertama kali oleh Mbah Serun, diteruskan Mbah Kiman, lalu diwariskan ke putranya Mbah Karimun sekitar 1930-an. Mbah Karimun sempat dibantu putranya, Taslan, sebelum Taslan wafat pada 1992. Kini Handoyo, cucu Mbah Karimun, mengelola padepokan tersebut secara penuh.
Garis keturunan empat generasi ini menjelaskan mengapa dokumentasi mendesak: pengetahuan pembuatan topeng dan lakon selama ini bertumpu pada transmisi lisan dan keluarga, bukan arsip tertulis yang mudah diakses publik.
| Generasi | Nama | Peran |
|---|---|---|
| 1 | Mbah Serun | Perintis kesenian |
| 2 | Mbah Kiman | Penerus awal |
| 3 | Mbah Karimun | Pembuat topeng (sekitar 1930-an), dibantu Taslan hingga 1992 |
| 4 | Handoyo | Pengelola padepokan saat ini |
Sumber: Detik.com, “Sejarah Wayang Topeng Malangan, Asal-usul dan Keunikannya”.
Digitalisasi Resmi: Workshop Disbudpar Jatim dan Pentas “Candrasmara”

Selain jalur fotografi independen, pemerintah provinsi juga bergerak lewat jalur kelembagaan. Workshop dokumentasi Disbudpar Jatim pada Februari 2026 diikuti 56 dari target 70 peserta, berasal dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta humas kabupaten/kota se-Jawa Timur.
Materi workshop menggunakan pertunjukan langsung sebagai objek belajar: Grup Seni Tari dari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya membawakan lakon “Candrasmara” di Pendapa Jayengrana, Taman Budaya Jawa Timur, pada 10 Februari 2026. Pertunjukan ini melibatkan kolaborasi seniman senior dan generasi penerus.
Hasil dokumentasi peserta akan dinilai narasumber lalu diunggah ke kanal YouTube resmi UPT Taman Budaya Jawa Timur sebagai arsip digital sekaligus media promosi budaya.
Cara Mengikuti Dokumentasi dan Pameran Ini

- Kunjungi pamerannya langsung: Datang ke Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta sebelum 4 Oktober 2026 untuk melihat karya fotografi 12 komunitas secara langsung.
- Ikuti arsip resminya: Pantau kanal YouTube UPT Taman Budaya Jawa Timur untuk video dokumentasi hasil workshop digitalisasi.
- Telusuri padepokan asal: Jika ingin melihat pertunjukan asli, Padepokan Asmorobangun di Kedungmonggo, Pakisaji, dikenal masih rutin menggelar gebyak atau pertunjukan mandiri.
- Baca riset akademiknya: Jurnal LAKON (Universitas Airlangga) edisi Juni 2026 mengangkat nilai kearifan lokal dalam Wayang Topeng Malangan secara lebih mendalam bagi yang ingin riset lanjutan.
Baca Juga Pagelaran Sabang Merauke Rampung, 1.700 Seniman Pukau Senayan
FAQ — Wayang Topeng Malangan
Apa itu Wayang Topeng Malangan?
Wayang Topeng Malangan adalah seni drama-tari topeng khas Malang, Jawa Timur, yang mengangkat kisah Panji dan telah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda nasional sejak 2014.
Kenapa disebut “kembali ke 12 komunitas” pada 2026?
Proyek fotografi Diego Zapatero mendokumentasikan 12 komunitas aktif penjaga tradisi ini di Malang, sebuah jumlah yang lebih besar dari catatan sebelumnya yang hanya menyebut dua komunitas tersisa pada 2021.
Di mana bisa melihat pamerannya?
Pameran “Malangan: A Legacy That Refuses to Vanish” digelar di Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta, 3 September hingga 4 Oktober 2026.
Berdasarkan riset sumber ANTARA News, Koran Jakarta, Media Indonesia, Detik Jatim, dan Parents Guide.
