Ringkasan: Sejak perang AS-Israel-Iran pecah pada 28 Februari 2026, sedikitnya 5 situs Warisan Dunia UNESCO di Iran telah rusak, sementara 29 situs lainnya berada dalam zona risiko aktif. UNESCO telah membagikan koordinat geografis semua situs ke seluruh pihak yang bertikai — langkah darurat yang belum pernah dilakukan dalam skala ini sejak konflik Suriah. Total situs bersejarah Iran yang terdampak melampaui 140 lokasi per Mei 2026 menurut laporan Komisi Nasional Iran untuk UNESCO.
Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Situs UNESCO Iran di Tengah Perang 2026?

Pada 28 Februari 2026, serangan udara AS dan Israel terhadap fasilitas militer Iran memulai konflik berskala penuh. Yang tidak diperhitungkan banyak pihak: Iran menyimpan 29 situs Warisan Dunia UNESCO — peringkat ke-10 terbanyak di dunia — sebagian besar terkonsentrasi di kota-kota yang menjadi target militer utama: Teheran, Isfahan, Shiraz, dan Khorramabad.
Dampaknya langsung terasa. Pada 2 Maret 2026, serangan di kawasan Arg Square Teheran merusak Istana Golestan — satu-satunya Situs Warisan Dunia UNESCO di ibu kota Iran. UNESCO mengeluarkan pernyataan keprihatinan resmi di hari yang sama.
Ini bukan insiden terisolasi. Ini adalah krisis warisan budaya global.
Sebelum membahas daftar situs yang berisiko, penting dipahami bahwa warisan budaya dunia yang terancam konflik bukan fenomena baru — tetapi skala kerusakan di Iran 2026 melampaui banyak preseden sebelumnya dalam waktu singkat.
Daftar 9 Situs Warisan Dunia UNESCO di Iran yang Paling Berisiko (2026)

Data berikut dikompilasi dari laporan UNESCO (Maret–Mei 2026), Wikipedia, dan Kementerian Warisan Budaya Iran. Status “rusak” berarti kerusakan fisik terkonfirmasi; “risiko tinggi” berarti berada dalam radius zona tempur aktif.
| # | Nama Situs | Kota | Tahun UNESCO | Status Juni 2026 | Tingkat Risiko |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Istana Golestan | Teheran | 2013 | RUSAK (2 Mar 2026) | Kritis |
| 2 | Masjid Jameh Isfahan (Masjidil Haram) | Isfahan | 2012 | RUSAK (9 Mar 2026) | Kritis |
| 3 | Naqsh-e Jahan Square (Imam Square) | Isfahan | 1979 | RUSAK (9 Mar 2026) | Kritis |
| 4 | Chehel Sotoun (Taman Persia) | Isfahan | 2011 | RUSAK (9 Mar 2026) | Kritis |
| 5 | Situs Prasejarah Lembah Khorramabad | Khorramabad | 2025 | RUSAK (area penyangga) | Kritis |
| 6 | Persepolis | Marvdasht/Shiraz | 1979 | Belum rusak | Tinggi |
| 7 | Pasargadae | Fars | 2004 | Belum rusak | Tinggi |
| 8 | Chogha Zanbil | Khuzestan | 1979 | Belum rusak | Sedang |
| 9 | Hegmataneh | Hamadan | 2024 | Belum rusak | Sedang |
Sumber: UNESCO Statement, 11 Maret 2026; Wikipedia — Destruction of cultural heritage sites during the 2026 Iran war (diakses 13 Juni 2026); Liputan6 (26 Maret 2026); CNN Indonesia (10 Mei 2026).
Catatan metodologi: “Risiko tinggi” didefinisikan sebagai situs yang berada dalam radius 100 km dari lokasi yang telah menjadi target serangan udara per data yang tersedia Juni 2026.
Istana Golestan: “Versailles dari Persia” yang Terluka

Istana Golestan adalah titik nol dari krisis warisan budaya ini. Kompleks yang berdiri sejak era Safavid (abad ke-16) dan diperluas besar-besaran di era Qajar (1789–1925) ini resmi masuk daftar UNESCO pada 7 Juli 2013.
Pada 2 Maret 2026, serangan di kawasan Arg Square Teheran mengirimkan gelombang kejut yang merusak istana tersebut. Menurut Jabbar Avaj, direktur museum Istana Golestan, seperti dikutip CNN Indonesia, “lima puluh hingga 60 persen pintu dan jendelanya rusak.” Aula Cermin — ruang ikonik dengan mosaik berkilauan di langit-langit — terdampak signifikan. Singgasana Marmer (Takht-e Marmar) yang ditopang patung simbol mitologis kerajaan juga mengalami kerusakan parah.
UNESCO menyebutnya “Versailles dari Persia.” Kerusakan yang terjadi bukan sekadar kehilangan material — ini penghapusan memori kolektif umat manusia.
Isfahan: Kota Warisan yang Paling Parah Terdampak

Isfahan adalah tragedi terbesar dalam krisis ini. Kota yang dulunya menjadi salah satu pusat terpenting Jalur Sutra Asia Tengah ini menyimpan setidaknya tiga Situs Warisan Dunia UNESCO dalam radius sangat berdekatan.
Pada 9 Maret 2026, serangan udara yang menargetkan gedung gubernur Isfahan berdampak langsung pada tiga situs UNESCO sekaligus:
- Naqsh-e Jahan Square (Imam Square) — alun-alun persegi panjang raksasa, salah satu yang terbesar di dunia, terdaftar UNESCO sejak 1979.
- Chehel Sotoun — paviliun abad ke-17 bagian dari Taman Persia, terdaftar UNESCO 2011. Interior istana mengalami kerusakan dari kedekatan zona ledakan.
- Masjid Jameh Isfahan — dibangun sejak abad ke-9 Masehi, ini adalah masjid Jumat tertua di Iran dan merupakan “dokumen arsitektur” yang merekam 12 abad evolusi seni bangunan Islam. Terdaftar UNESCO 2012.
Bangunan Rashk-e Jenan di Isfahan bahkan dilaporkan hancur total oleh serangan udara Israel, menurut laporan Wikipedia yang dikompilasi dari berbagai sumber berita.
Mereka yang tertarik memahami bagaimana teknologi preservasi warisan budaya bekerja dalam kondisi normal, perlu menyadari bahwa dalam kondisi perang, teknologi dokumentasi ini menjadi satu-satunya harapan untuk rekonstruksi.
Data Internal: Skala Kerusakan yang Terus Bertambah

| Periode | Situs Heritage Rusak | Sumber | Catatan |
|---|---|---|---|
| Mid-Maret 2026 | 56 situs historis | Kementerian Warisan Budaya Iran | Termasuk museum dan monumen |
| Akhir Maret 2026 | 120+ museum & situs | Wikipedia/kompilasi sumber berita | Kenaikan signifikan dalam 2 minggu |
| 31 Maret 2026 | 131 situs | Adventure Iran (dari laporan resmi Iran ke UNESCO) | Dokumen resmi ke UNESCO |
| Mei 2026 | 140+ lokasi | Hassan Fartousi, Kepala Komisi Nasional Iran untuk UNESCO | Termasuk non-UNESCO tapi signifikan budaya |
Angka ini memperlihatkan laju kerusakan yang mengkhawatirkan: dari 56 ke 140+ dalam kurang dari dua bulan.
Iran telah mengajukan dokumentasi kerusakan secara resmi ke UNESCO, mengacu pada pelanggaran Konvensi Hague 1954 tentang Perlindungan Kekayaan Budaya dalam Konflik Bersenjata — instrumen hukum internasional yang mengatur perlindungan warisan budaya saat perang.
Persepolis dan Pasargadae: Mahkota Peradaban Persia yang Masih Bertahan (untuk Sekarang)

Dua situs yang secara simbolis paling tinggi nilainya — Persepolis dan Pasargadae — belum mengalami kerusakan fisik langsung per Juni 2026. Namun keduanya masuk kategori risiko tinggi.
Persepolis (terdaftar UNESCO 1979) adalah pusat seremonial Kekaisaran Akhemeniyah yang dibangun oleh Darius I pada abad ke-6 SM. Kompleks ini menyimpan 7 istana, 2 makam kerajaan, dan lebih dari 3.000 prasasti batu. Lokasinya di Marvdasht, sekitar 60 km dari Shiraz, relatif jauh dari pusat konflik — namun bukan berarti aman.
Pasargadae (terdaftar UNESCO 2004) adalah ibu kota pertama Kekaisaran Akhemeniyah, tempat berdirinya Makam Cyrus Agung — pendiri dinasti yang sering disebut sebagai raja pertama yang mengeluarkan dekrit hak asasi manusia.
Keduanya belum diserang. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa dalam perang modern, kerusakan tidak selalu disengaja. Proximity terhadap target militer adalah faktor risiko dominan — dan peta serangan udara yang terus berubah membuat prediksi apapun bersifat tentatif.
Untuk memahami betapa dalamnya nilai situs-situs seperti ini bagi Indonesia, kita perlu mengingat bahwa Candi Borobudur sebagai warisan dunia pun pernah menghadapi ancaman destruksi di masa lalu — dan pemahaman itu membuat kita bisa lebih berempati dengan krisis yang sedang terjadi di Iran.
Respons UNESCO dan Mekanisme Perlindungan Internasional

UNESCO tidak berdiam diri. Berikut langkah-langkah yang telah diambil per Juni 2026:
- 2 Maret 2026 — UNESCO mengeluarkan pernyataan resmi keprihatinan setelah kerusakan Golestan Palace terkonfirmasi.
- 11 Maret 2026 — UNESCO menyerukan perlindungan khusus untuk situs heritage Iran, Israel, Lebanon, dan kawasan Timur Tengah secara lebih luas.
- Koordinat geografis dibagikan — UNESCO membagikan koordinat presisi semua situs budaya signifikan kepada seluruh pihak yang bertikai, sebagai langkah pencegahan berdasarkan hukum humaniter internasional.
- Blue Shield International — Bendera organisasi ini dipasang di lebih dari 100 situs heritage di Iran sebagai penanda perlindungan. Namun sebuah situs bertanda Blue Shield — Falak-ol-Aflak Castle — tetap rusak pada 8 Maret 2026.
- 300 ahli — Kementerian Warisan Budaya Iran menurunkan 300 tenaga ahli untuk menilai kerusakan situs-situs bersejarah.
Kenyataannya: mekanisme hukum internasional ada, namun enforcement-nya lemah dalam kondisi perang aktif. US Committee of the Blue Shield menyatakan “sangat terganggu” dan memperingatkan bahwa kegagalan mematuhi hukum humaniter internasional dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang — namun pernyataan ini belum berdampak pada perubahan operasi militer.
Mengapa Ini Urusan Seluruh Umat Manusia, Bukan Hanya Iran

Ada alasan mengapa UNESCO menggunakan frasa “Warisan Dunia” — bukan “warisan Iran” atau “warisan Persia.” Situs-situs ini bukan milik satu bangsa. Mereka adalah titipan peradaban manusia.
Persepolis merekam bagaimana manusia pertama kali membangun administrasi multikultur berskala besar. Masjid Jameh Isfahan mendokumentasikan 12 abad inovasi arsitektur Islam. Chogha Zanbil menyimpan bukti peradaban Elam — salah satu peradaban tertua yang pernah eksis di bumi.
Ketika ini hancur, tidak ada yang bisa menggantinya. Tidak ada teknologi, tidak ada anggaran restorasi, tidak ada replika yang bisa mengembalikan sebuah bangunan berusia 2.500 tahun ke kondisi autentiknya.
Ini juga relevan bagi Indonesia. Upaya melestarikan budaya yang terancam — baik di Iran maupun di Nusantara — pada dasarnya adalah perjuangan yang sama: melawan lupa, melawan penghancuran, dan mempertahankan identitas kolektif manusia melintasi generasi.
Situs di Luar Iran: White City Tel Aviv dan Risiko Regional

Konflik ini tidak hanya merusak situs di Iran. Pada 28 Februari 2026, serangan rudal Iran menghantam kawasan White City of Tel Aviv — situs Warisan Dunia UNESCO yang dikenal dengan koleksi arsitektur Bauhaus terbesar di dunia.
Dua bangunan bergaya Bauhaus rusak. Habima Theatre — gedung teater nasional Israel — mengalami pecahnya jendela-jendela dan serpihan kaca berserakan di lantai, berdasarkan foto dan video yang beredar.
Ini menegaskan poin yang perlu digarisbawahi: dalam perang modern, tidak ada satu pihak yang bisa mengklaim murni “melindungi warisan budaya” sementara yang lain tidak. Kerusakan terjadi di kedua sisi. Yang rugi adalah umat manusia.
Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat Internasional?
Berdasarkan mekanisme yang ada, ada beberapa jalur yang sedang atau seharusnya diaktifkan:
Jalur hukum internasional:
- Konvensi Hague 1954 tentang perlindungan kekayaan budaya dalam konflik bersenjata
- Second Protocol (1999) yang memperkuat perlindungan dan mendefinisikan pelanggaran berat sebagai kejahatan perang
- Laporan ke Mahkamah Pidana Internasional jika terbukti ada serangan disengaja pada situs budaya
Jalur dokumentasi:
- Proyek digitalisasi 3D menggunakan LiDAR dan fotogrametri untuk merekam kondisi situs sebelum kehancuran lebih lanjut
- Arsip digital seperti yang dikerjakan berbagai lembaga heritage global
Jalur diplomatik:
- Tekanan pada semua pihak yang bertikai melalui resolusi DK PBB
- Keterlibatan negara-negara netral sebagai mediator perlindungan situs
Hassan Fartousi, Kepala Komisi Nasional Iran untuk UNESCO, mengatakan dengan jujur: “Sayangnya, UNESCO dan organisasi internasional lainnya memiliki anggaran terbatas.” Ini realita yang tidak bisa diabaikan.
Proyeksi Risiko: Skenario Jika Konflik Berlanjut
Jika konflik berlanjut atau eskalasi terjadi ke wilayah Shiraz dan Fars, Persepolis dan Pasargadae masuk zona risiko kritis. Kedua situs ini berada di provinsi Fars — yang sejauh ini belum menjadi target utama serangan udara, namun memiliki fasilitas militer dan industri pertahanan yang bisa menjadi target masa depan.
Skenario terbaik: gencatan senjata dalam 30–60 hari, disusul akses UNESCO dan tim ahli independen untuk assessment menyeluruh.
Skenario terburuk: eskalasi ke seluruh wilayah Iran, termasuk Shiraz dan Khuzestan, yang akan menempatkan hampir seluruh 29 situs UNESCO Iran dalam kondisi kritis.
Dunia sudah pernah kehilangan Hatra (Irak), Palmyra (Suriah), Museum Mosul. Pelajaran dari tragedi-tragedi itu seharusnya membuat komunitas internasional lebih sigap. Kenyataannya, mekanisme respons masih terlalu lambat dibanding laju kehancuran yang terjadi.
FAQ
Berapa total situs Warisan Dunia UNESCO yang dimiliki Iran?
Iran memiliki 29 situs Warisan Dunia UNESCO per 2026 — 27 situs arkeologi dan 2 cagar alam. Situs pertama yang terdaftar adalah Persepolis dan Chogha Zanbil pada 1979. Situs terbaru adalah Situs Prasejarah Lembah Khorramabad yang terdaftar Juli 2025.
Situs mana yang sudah pasti rusak akibat perang AS-Iran 2026?
Per data Juni 2026, setidaknya 5 situs UNESCO terkonfirmasi rusak: Istana Golestan (Teheran), Masjid Jameh Isfahan, Naqsh-e Jahan Square, Chehel Sotoun (Isfahan), dan area penyangga Situs Prasejarah Lembah Khorramabad. Angka total situs bersejarah Iran yang terdampak melampaui 140 lokasi menurut Komisi Nasional Iran untuk UNESCO.
Apakah Persepolis terancam perang AS-Iran 2026?
Persepolis belum mengalami kerusakan fisik langsung per Juni 2026, namun masuk kategori risiko tinggi karena berada di Iran — negara yang wilayah udaranya aktif menjadi zona konflik. Lokasinya di Marvdasht (provinsi Fars) relatif jauh dari target serangan saat ini, tetapi status ini dapat berubah.
Apa yang dilakukan UNESCO untuk melindungi situs di Iran?
UNESCO telah membagikan koordinat geografis semua situs budaya signifikan kepada pihak-pihak yang bertikai, mengeluarkan pernyataan keprihatinan resmi, dan mendukung pemasangan bendera Blue Shield di lebih dari 100 situs. Namun UNESCO tidak memiliki kapasitas enforcement militer — semua upaya bergantung pada kepatuhan sukarela pihak yang berperang.
Mengapa kerusakan situs UNESCO bisa dikategorikan sebagai kejahatan perang?
Berdasarkan Second Protocol 1999 dari Konvensi Hague 1954, serangan yang disengaja terhadap situs warisan budaya yang dilindungi merupakan pelanggaran berat hukum humaniter internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang. US Committee of the Blue Shield telah memperingatkan hal ini secara eksplisit dalam konteks konflik Iran 2026.
Bagaimana cara mendukung pelestarian warisan budaya Iran yang terancam?
Dukungan dapat diberikan melalui: donasi ke organisasi heritage internasional seperti Blue Shield International atau ALIPH (International Alliance for the Protection of Heritage in Conflict Areas), mendukung proyek digitalisasi situs berbasis open-source, dan menyebarkan informasi akurat tentang krisis ini untuk membangun tekanan opini publik global.
Penutup: Sejarah yang Tidak Bisa Diganti
Ketika Masjid Jameh Isfahan rusak pada 9 Maret 2026, dunia kehilangan sebagian dari catatan 12 abad arsitektur Islam. Bukan semua — tapi cukup untuk membuat para sejarawan dan arsitek di seluruh dunia menghela napas panjang.
Perang memiliki logikanya sendiri. Tapi warisan budaya tidak memiliki cadangan. Tidak ada backup. Tidak ada versi kedua.
Iran memiliki 29 situs UNESCO. Lima sudah rusak. Dua puluh empat lagi masih berdiri — untuk sekarang.
Apakah mereka akan tetap berdiri ketika konflik ini berakhir, bergantung pada keputusan-keputusan yang dibuat di ruang komando militer, di sidang Dewan Keamanan PBB, dan di meja negosiasi yang mungkin belum bahkan dimulai.
Terakhir diperbarui: 13 Juni 2026 | Ditinjau ulang: 27 Juni 2026 Sumber utama: UNESCO (pernyataan resmi Maret–April 2026), Wikipedia — Destruction of cultural heritage sites during the 2026 Iran war, Liputan6, CNN Indonesia, Euronews, The Art Newspaper, Cultural Property News, Adventure Iran.
