Sultan Hasanuddin: Dari Royal Bloodline Jadi “Ayam Jantan dari Timur”

Sultan Hasanuddin

eskicanakkale – Kalau lo lagi ngomongin tokoh sejarah Indonesia yang presence-nya kuat banget dan auranya tuh “gue nggak bakal tunduk sama penjajah”, maka nama Sultan Hasanuddin ini wajib banget masuk radar. Sosok yang dijuluki “Ayam Jantan dari Timur” ini bukan cuma raja biasa—dia adalah simbol perlawanan, keberanian, dan leadership with integrity di tengah tekanan brutal dari kekuatan kolonial seperti VOC.

Dan yang bikin ceritanya makin menarik? Semua ini berawal dari seorang anak bangsawan yang tumbuh di tengah kerajaan besar, belajar strategi sejak kecil, dan akhirnya jadi salah satu musuh paling ditakuti VOC di wilayah timur Nusantara.

Born Into Power: Lahir dari Dinasti Kuat Kerajaan Gowa

Sultan Hasanuddin lahir sekitar tahun 1631 dengan nama panjang yang royal banget: I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape. Ia berasal dari Kerajaan Gowa, sebuah kerajaan besar di Sulawesi Selatan yang pada masa itu dikenal sebagai salah satu pusat kekuatan politik dan perdagangan paling influential di Indonesia Timur.

Secara garis keturunan, Hasanuddin itu bukan orang sembarangan. Dia adalah anak dari Sultan Malikussaid, penguasa Gowa sebelum dirinya. Artinya, dari lahir aja dia udah punya status sebagai bagian dari elite ruling class.

Silsilah singkatnya:

  • Ayah: Sultan Malikussaid
  • Ibu: Permaisuri dari kalangan bangsawan tinggi Gowa
  • Dinasti: Keluarga kerajaan Gowa yang punya pengaruh besar di jalur perdagangan Nusantara

Kerajaan Gowa sendiri bukan kerajaan kecil. Mereka punya jaringan perdagangan luas, relasi internasional, dan posisi strategis di jalur laut. Jadi kebayang kan, Hasanuddin tumbuh di lingkungan yang high exposure banget terhadap dunia luar.

Masa Muda: Didikan Elite, Mindset Global

Sebagai anak raja, Hasanuddin nggak cuma dididik buat duduk di singgasana doang. Dari kecil, dia udah ditempa dengan berbagai ilmu penting:

  • Strategi militer: dari teknik bertempur sampai taktik perang laut
  • Diplomasi politik: gimana negosiasi dengan kerajaan lain dan pedagang asing
  • Perdagangan internasional: karena Gowa adalah hub perdagangan besar

Makassar (pusat Gowa saat itu) adalah kota pelabuhan yang super ramai. Banyak pedagang dari:

  • Arab
  • India
  • Tiongkok
  • Eropa

Jadi Hasanuddin muda literally hidup di lingkungan multikultural. Ini yang bikin dia punya global awareness dan pemahaman kuat tentang pentingnya perdagangan bebas.

Dan ini penting banget, karena nanti jadi salah satu alasan utama dia bentrok sama VOC.

Naik Tahta: Dari Prince ke Sultan di Tengah Situasi Nggak Chill

Setelah wafatnya Sultan Malikussaid, Hasanuddin naik tahta menjadi Sultan Gowa ke-16 sekitar tahun 1653. Tapi unlike cerita “naik tahta terus hidup enak”, realitanya jauh dari itu.

Saat itu, situasi politik lagi panas banget.

VOC sedang dalam mode ekspansi agresif. Tujuan mereka jelas:

Monopoli perdagangan di Nusantara.

Dan buat VOC, Gowa adalah “obstacle besar” karena:

  • Gowa mendukung perdagangan bebas
  • Gowa nggak mau tunduk pada aturan monopoli
  • Gowa punya kekuatan militer dan armada laut yang solid

Jadi dari awal masa pemerintahannya, Hasanuddin udah langsung dihadapkan sama konflik besar. No warm-up, langsung boss battle.

Clash of Ideals: Perdagangan Bebas vs Monopoli VOC

Salah satu hal paling core dari kepemimpinan Sultan Hasanuddin adalah prinsipnya tentang perdagangan.

Dia percaya:

“Perdagangan harus terbuka untuk semua, bukan dimonopoli satu pihak.”

Sedangkan VOC datang dengan mindset:

“Kalau bukan kami yang kontrol, ya nggak boleh.”

Ya jelas bentrok.

Konflik antara Gowa dan VOC bukan cuma soal kekuasaan, tapi juga soal ideologi ekonomi. Dan Hasanuddin, dengan segala tekanan yang ada, tetap berdiri di prinsipnya.

Perang Besar: Gowa vs VOC

Ketegangan akhirnya berubah jadi konflik terbuka. Perang antara Kerajaan Gowa dan VOC pecah, dan berlangsung dengan intensitas tinggi.

VOC saat itu dipimpin oleh Cornelis Speelman, seorang tokoh militer yang juga ambisius banget.

Yang bikin situasi makin kompleks:

  • VOC nggak sendirian
  • Mereka bersekutu dengan kerajaan lokal yang jadi rival Gowa

Ini membuat Gowa harus menghadapi:

Musuh eksternal + tekanan internal sekaligus

Tapi Hasanuddin nggak mundur.

Dia memimpin langsung perlawanan, menunjukkan kualitas sebagai:

  • Strategist
  • Commander
  • Motivator bagi pasukannya

Perang berlangsung sengit. Benteng-benteng pertahanan Gowa jadi saksi perlawanan keras terhadap VOC.

Momen Krusial: Perjanjian Bungaya

Setelah konflik panjang dan tekanan besar dari berbagai sisi, akhirnya Gowa dipaksa menandatangani Perjanjian Bungaya pada 18 November 1667 di Bungaya. Perjanjian perdamaian ini di tangani oleh Sultan Hasanudin langsung dan Laksamana Cornelis Speelman sebagai wakil VOC.

Isi perjanjiannya:

  1. Seluruh pejabat dan rakyat Kompeni berkebangsaan Eropa yang baru-baru ini atau pada masa lalu melarikan diri dan masih tinggal di sekitar Makassar harus segera dikirim kepada Laksamana (Cornelis Speelman).
  2. Seluruh alat-alat, meriam, uang, dan barang-barang yang masih tersisa, yang diambil dari kapal Walvisch di Selayar dan Leeuwin di Don Duango, harus diserahkan kepada Kompeni.
  3. Mereka yang terbukti bersalah atas pembunuhan orang Belanda di berbagai tempat harus diadili segera oleh Perwakilan Belanda dan mendapat hukuman setimpal.
  4. Raja dan bangsawan Makassar harus membayar ganti rugi dan seluruh utang pada Kompeni, paling lambat musim berikut.
  5. Seluruh orang Portugis dan Inggris harus diusir dari wilayah Makassar dan tidak boleh lagi diterima tinggal di sini atau melakukan perdagangan.
  6. Tidak ada orang Eropa yang boleh masuk atau melakukan perdagangan di Makassar.
  7. Hanya Kompeni yang boleh bebas berdagang di Makassar. Orang “India” atau “Moor” (Muslim India), Jawa, Melayu, Aceh, atau Siam tidak boleh memasarkan kain dan barang-barang dari Tiongkok karena hanya Kompeni yang boleh melakukannya. Semua yang melanggar akan dihukum dan barangnya akan disita oleh Kompeni.
  8. Kompeni harus dibebaskan dari bea dan pajak impor maupun ekspor.
  9. Pemerintah dan rakyat Makassar tidak boleh berlayar ke mana pun kecuali Bali, pantai Jawa, Jakarta, Banten, Jambi, Palembang, Johor, dan Kalimantan, dan harus meminta surat izin dari Komandan Belanda di sini (Makassar). Mereka yang berlayar tanpa surat izin akan dianggap musuh dan diperlakukan sebagaimana musuh. Tidak boleh ada kapal yang dikirim ke Bima, Solor, Timor, dan lainnya semua wilayah di timur Tanjung Lasso, di utara atau timur Kalimantan atau pulau-pulau di sekitarnya. Mereka yang melanggar harus menebusnya dengan nyawa dan harta.
  10. Seluruh benteng di sepanjang pantai Makassar harus dihancurkan, yaitu: Barombong, Pa’nakkukang, Garassi, Mariso, Boro’boso. Hanya Sombaopu yang boleh tetap berdiri untuk ditempati raja.
  11. Benteng Ujung Pandang harus diserahkan kepada Kompeni dalam keadaan baik, bersama dengan desa dan tanah yang menjadi wilayahnya.
  12. Koin Belanda seperti yang digunakan di Batavia harus diberlakukan di Makassar.
  13. Raja dan para bangsawan harus mengirim ke Batavia uang senilai 1.000 budak pria dan wanita, dengan perhitungan 2½ tael atau 40 mas emas Makassar per orang. Setengahnya harus sudah terkirim pada bulan Juni dan sisanya paling lambat pada musim berikut.
  14. Raja dan bangsawan Makassar tidak boleh lagi mencampuri urusan Bima dan wilayahnya.
  15. Raja Bima dan Karaeng Bontomarannu harus diserahkan kepada Kompeni untuk dihukum.
  16. Mereka yang diambil dari Sultan Butung pada penyerangan terakhir Makassar harus dikembalikan. Bagi mereka yang telah meninggal atau tidak dapat dikembalikan, harus dibayar dengan kompensasi.
  17. Bagi Sultan Ternate, semua orang yang telah diambil dari Kepulauan Sula harus dikembalikan bersama dengan meriam dan senapan. Gowa harus melepaskan seluruh keinginannya menguasai kepulauan Selayar dan Pansiano (Muna), seluruh pantai timur Sulawesi dari Manado ke Pansiano, Banggai, dan Kepulauan Gapi dan tempat lainnya di pantai yang sama, dan negeri-negeri Mandar dan Manado, yang dulunya adalah milik raja Ternate.
  18. Gowa harus menanggalkan seluruh kekuasaannya atas negeri-negeri Bugis dan Luwu. Raja tua Soppeng [La Ténribali] dan seluruh tanah serta rakyatnya harus dibebaskan, begitu pula penguasa Bugis lainnya yang masih ditawan di wilayah-wilayah Makassar, serta wanita dan anak-anak yang masih ditahan penguasa Gowa.
  19. Raja Layo, Bangkala dan seluruh Turatea serta Bajing dan tanah-tanah mereka harus dilepaskan.
  20. Seluruh negeri yang ditaklukkan oleh Kompeni dan sekutunya, dari Bulo-Bulo hingga Turatea, dan dari Turatea hingga Bungaya, harus tetap menjadi tanah milik Kompeni sebagai hak penaklukan.
  21. Wajo, Bulo-Bulo dan Mandar harus ditinggalkan oleh pemerintah Gowa dan tidak lagi membantu mereka dengan tenaga manusia, senjata dan lainnya.
  22. Seluruh laki-laki Bugis dan Turatea yang menikahi perempuan Makassar, dapat terus bersama isteri mereka. Untuk selanjutnya, jika ada orang Makassar yang berharap tinggal dengan orang Bugis atau Turatea, atau sebaliknya, orang Bugis atau Turatea berharap tinggal dengan orang Makassar, boleh melakukannya dengan seizin penguasa atau raja yang berwenang.
  23. Pemerintah Gowa harus menutup negerinya bagi semua bangsa (kecuali Belanda). Mereka juga harus membantu Kompeni melawan musuhnya di dalam dan sekitar Makassar.
  24. Persahabatan dan persekutuan harus terjalin antara para raja dan bangsawan Makassar dengan Ternate, Tidore, Bacan, Butung, Bugis (Bone), Soppeng, Luwu, Turatea, Layo, Bajing, Bima dan penguasa-penguasa lain yang pada masa depan ingin turut dalam persekutuan ini.
  25. Dalam setiap sengketa di antara para sekutu, Kapten Belanda (yaitu, presiden atau gubernur Fort Rotterdam) harus diminta untuk menengahi. Jika salah satu pihak tidak mengacuhkan mediasi ini, maka seluruh sekutu akan mengambil tindakan yang setimpal.
  26. Ketika perjanjian damai ini ditandatangani, disumpah dan dibubuhi cap, para raja dan bangsawan Makassar harus mengirim dua penguasa pentingnya bersama Laksamana ke Batavia untuk menyerahkan perjanjian ini kepada Gubernur-Jendral dan Dewan Hindia. Jika perjanjian ini disetujui, Gubernur-Jendral dapat menahan dua pangeran penting sebagai sandera selama yang dia inginkan.
  27. Lebih jauh tentang pasal 6, orang Inggris dan seluruh barang-barangnya yang ada di Makassar harus dibawa ke Batavia.
  28. Lebih jauh tentang pasal 15, jika Raja Bima dan Karaeng Bontomarannu tidak ditemukan hidup atau mati dalam sepuluh hari, maka putra dari kedua penguasa harus ditahan.
  29. Pemerintah Gowa harus membayar ganti rugi sebesar 250.000 rijksdaalders dalam lima musim berturut-turut, baik dalam bentuk meriam, barang, emas, perak ataupun permata.
  30. Raja Makassar dan para bangsawannya, Laksamana sebagai wakil Kompeni, serta seluruh raja dan bangsawan yang termasuk dalam persekutuan ini harus bersumpah, menandatangani dan membubuhi cap untuk perjanjian ini atas nama Tuhan yang Suci pada hari Jumat, 18 November 1667.

Jujur aja, ini adalah titik berat dalam sejarah Gowa. Karena meskipun ini disebut perjanjian perdamaian, namun isi sebenarnya adalah pernyataan kekalahan Kerajaan Gowa dari VOC pada Perang Makassar, serta pengesahan monopoli untuk VOC.

Tapi penting untuk dicatat:

Hasanuddin bukan menyerah tanpa perlawanan. Dia dipaksa oleh kondisi yang sangat tidak seimbang.

Dan bahkan setelah perjanjian itu, perlawanan masih sempat berlanjut.

“Ayam Jantan dari Timur”: Julukan yang Earned, Not Given

Julukan ini bukan sekadar label keren. Ini adalah bentuk pengakuan terhadap keberanian dan kegigihan Hasanuddin.

Dia disebut “Ayam Jantan dari Timur” karena:

  • Berani menghadapi kekuatan besar tanpa takut
  • Konsisten mempertahankan prinsip
  • Tetap melawan meskipun peluang kecil

Kalau diterjemahkan ke bahasa sekarang:

“Dia bukan cuma fighter, tapi juga simbol resistance yang real.”

Dampak & Legacy: Lebih dari Sekadar Raja

Walaupun Sultan Hasanuddin hidup jauh sebelum era kemerdekaan Indonesia tahun 1945, perjuangannya punya dampak besar dalam sejarah panjang perlawanan terhadap kolonialisme.

Dia menunjukkan bahwa:

  • Nusantara punya pemimpin yang berani melawan
  • Monopoli dan penindasan bisa ditentang
  • Kedaulatan itu worth fighting for

Namanya sekarang diabadikan di berbagai tempat penting, seperti:

  • Universitas Hasanuddin
  • Bandara Internasional Sultan Hasanuddin
  • Berbagai jalan utama di Indonesia

Refleksi: Kenapa Cerita Ini Masih Relevan?

Kalau dipikir-pikir, cerita Sultan Hasanuddin ini nggak cuma soal masa lalu. Banyak banget pelajaran yang masih relevan sekarang:

  • Stand your ground: tetap pegang prinsip meskipun tekanan besar
  • Leadership matters: pemimpin yang kuat bisa mempengaruhi arah sejarah
  • Freedom vs control: konflik antara kebebasan dan dominasi itu masih ada sampai sekarang

Dan mungkin yang paling relatable:

Kadang lo nggak selalu menang, tapi cara lo fight itu yang bikin lo dikenang.