eskicanakkale – Bayangkan seorang remaja meninggalkan rumah dan keluarganya untuk tinggal sementara di tempat yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Di sana, ia menjalani serangkaian ritual, menerima pendidikan mengenai kehidupan sebagai laki-laki dewasa dan melewati sebuah prosedur sunat tradisional.
Rasa sakit bukan sekadar efek samping yang tidak diinginkan.
Dalam pemaknaan tradisional tertentu, kemampuan menghadapi rasa sakit dan kesulitan justru menjadi bagian dari proses tersebut.
Inilah Ulwaluko, ritual inisiasi laki-laki yang sangat penting dalam kebudayaan amaXhosa atau masyarakat Xhosa di Afrika Selatan.
Bagi orang luar, bagian yang paling menarik perhatian mungkin sunat tradisionalnya. Sejumlah kajian mengenai Ulwaluko menggambarkan bagaimana peserta diharapkan menunjukkan keberanian ketika menjalani proses tersebut. Literatur juga mencatat adanya norma yang secara historis membuat peserta tidak diharapkan menangis atau menunjukkan rasa sakit ketika tindakan sunat dilakukan.
Tetapi kalau Ulwaluko hanya dijelaskan sebagai “tradisi sunat tanpa bius”, kita sebenarnya kehilangan bagian terbesar dari ceritanya.
Sebab bagi masyarakat yang menjalankannya, Ulwaluko bukan hanya soal memotong kulup.
Ini adalah perjalanan sosial dari seorang anak laki-laki menuju status sebagai laki-laki dewasa.
Apa Itu Tradisi Ulwaluko?
Ulwaluko merupakan ritual inisiasi laki-laki yang sangat erat dengan masyarakat amaXhosa di Afrika Selatan.
Dalam literatur mengenai indigenous knowledge Afrika Selatan, Ulwaluko dijelaskan sebagai proses yang menandai perpindahan dari ubukhwenkwe atau masa anak laki-laki menuju ubudoda atau status laki-laki dewasa.
Sunat menjadi bagian penting dari proses tersebut, tetapi bukan satu-satunya bagian.
Peserta menjalani persiapan sebelum inisiasi, prosedur sunat, masa pengasingan atau seclusion, pendidikan mengenai nilai dan tanggung jawab sebagai laki-laki, kemudian proses reintegrasi kembali ke masyarakat.
Seseorang yang menjalani proses inisiasi dikenal sebagai umkhwetha, dengan bentuk jamak abakhwetha.
Setelah berhasil melewati proses tersebut, status sosialnya berubah.
Karena itu, makna Ulwaluko jauh lebih besar daripada prosedur medis.
Bagi sebagian masyarakat Xhosa, inisiasi berhubungan dengan identitas, keluarga, leluhur, tanggung jawab sosial dan pengakuan seseorang sebagai laki-laki dewasa.
Sunat Hanya Satu Bagian dari Ulwaluko
Kesalahpahaman yang sering terjadi ketika membicarakan Ulwaluko adalah menganggap seluruh tradisi tersebut sama dengan sunat.
Padahal tidak demikian.
Kajian mengenai masyarakat Xhosa menjelaskan bahwa tindakan sunat hanyalah salah satu dari beberapa tahapan dalam keseluruhan ritual.
Sebelum menjalani inisiasi, terdapat berbagai bentuk persiapan. Setelah prosedur dilakukan, peserta memasuki periode pengasingan dan pemulihan.
Sebuah penelitian mengenai Ulwaluko di Eastern Cape menyebut periode tradisional tersebut dapat berlangsung sekitar tiga sampai enam minggu, meskipun pelaksanaannya dapat berbeda berdasarkan tempat, komunitas dan konteks.
Selama periode tersebut, peserta tidak hanya menunggu luka sembuh.
Mereka menjalani proses pendidikan budaya.
Para laki-laki yang lebih tua memiliki peran dalam mengajarkan nilai yang dianggap penting bagi kehidupan setelah inisiasi. Peserta diperkenalkan pada tanggung jawab, perilaku sosial dan berbagai aturan budaya yang berhubungan dengan status baru mereka.
Jadi, kalau prosedur sunat hanya berlangsung singkat, proses menjadi seorang laki-laki menurut tradisi tersebut berlangsung jauh lebih panjang.
Mengapa Rasa Sakit Memiliki Makna dalam Ulwaluko?
Inilah bagian Ulwaluko yang mungkin terasa paling sulit dipahami dari perspektif masyarakat modern.
Dalam sejumlah kajian antropologis dan kesehatan mengenai Ulwaluko, kemampuan menghadapi rasa sakit berkaitan dengan gagasan keberanian dan maskulinitas.
Ketika tindakan sunat dilakukan, peserta secara tradisional diharapkan tidak menangis atau memperlihatkan tanda-tanda ketidakmampuan menghadapi rasa sakit.
Sebuah kajian mengenai Ulwaluko yang diterbitkan melalui National Library of Medicine menjelaskan bahwa rasa sakit memiliki peranan dalam validasi konsep kedewasaan laki-laki dalam konteks budaya tersebut.
Kemampuan bertahan dianggap sebagai tanda keberanian.
Sebaliknya, menunjukkan rasa sakit secara terbuka dalam konteks ritual secara historis dapat dipandang sebagai kelemahan.
Di sinilah konteks budaya menjadi penting.
Dari perspektif medis modern, mengurangi rasa sakit adalah bagian normal dari pelayanan kesehatan.
Tetapi dalam ritual inisiasi tertentu, pengalaman menghadapi kesulitan justru memiliki makna simbolis.
Karena itu, ketegangan antara pengobatan modern dan tradisi tidak selalu mudah diselesaikan.
Benarkah Sunat Ulwaluko Dilakukan Tanpa Bius?
Praktik Ulwaluko tidak seragam dan telah mengalami perubahan, termasuk karena regulasi kesehatan dan keselamatan. Karena itu, tidak tepat menganggap semua prosedur Ulwaluko saat ini dilakukan dengan cara yang sama.
Namun, dokumentasi akademik mengenai praktik tradisional memang menunjukkan bahwa rasa sakit merupakan bagian penting dari ritual dan bahwa penggunaan intervensi biomedis tertentu secara historis dapat dianggap bertentangan dengan norma tradisional di sebagian lingkungan inisiasi.
Penelitian terhadap peserta Ulwaluko di Eastern Cape bahkan menemukan bahwa penggunaan obat-obatan modern selama periode inisiasi dapat menghadapi stigma dalam konteks tertentu.
Beberapa peserta yang membutuhkan obat kronis dilaporkan harus mencari cara agar tetap dapat mengonsumsi obat tanpa dianggap melanggar aturan tradisi.
Hal ini menunjukkan betapa kuatnya pemisahan yang secara historis dapat muncul antara dunia ritual dengan pengobatan modern.
Namun, kondisi sekarang juga perlu diperhatikan.
Pemerintah Afrika Selatan secara resmi mengharuskan sekolah inisiasi memenuhi persyaratan kesehatan dan keselamatan. Peserta memiliki hak terhadap pelayanan kesehatan, konseling, pengawasan yang memadai, peralatan yang higienis dan praktisi yang mendapat persetujuan.
Jadi, Ulwaluko modern berada di tengah proses adaptasi antara mempertahankan tradisi dan meningkatkan keselamatan.
Bagaimana Proses Ulwaluko Berlangsung?
Detail tertentu dari Ulwaluko dianggap sakral atau hanya diperuntukkan bagi orang yang telah menjalani ritual. Karena itu, tidak semua bagian tradisi dipublikasikan secara terbuka.
Namun, penelitian akademik menjelaskan beberapa tahap secara umum.
Proses dimulai dengan persiapan sebelum inisiasi. Setelah itu dilakukan tindakan sunat tradisional oleh praktisi yang memiliki peranan khusus dalam ritual.
Peserta kemudian memasuki masa pengasingan.
Pada tahap ini mereka menjalani pemulihan sekaligus pendidikan mengenai identitas baru sebagai laki-laki dewasa.
Ada pula bahasa dan kosakata tertentu yang berhubungan dengan dunia inisiasi. Penelitian tentang Ulwaluko menggambarkan adanya isikhwetha, yaitu bentuk bahasa atau kosakata khusus yang digunakan oleh para peserta.
Setelah periode pengasingan selesai, peserta kembali ke masyarakat.
Kepulangan tersebut memiliki makna besar karena seseorang tidak sekadar kembali setelah menjalani sunat.
Ia kembali dengan status sosial baru.
Dari Anak Laki-Laki Menjadi Laki-Laki Dewasa
Inilah inti Ulwaluko.
Dalam pandangan tradisional, kedewasaan bukan hanya persoalan usia biologis.
Seseorang harus melalui proses yang mengajarkan bagaimana ia seharusnya menjalankan tanggung jawab sebagai laki-laki dalam masyarakat.
Itulah sebabnya tekanan sosial untuk mengikuti Ulwaluko bisa sangat kuat.
Penelitian terhadap laki-laki Xhosa menemukan beberapa alasan mengapa tradisi tersebut tetap dipandang penting, mulai dari perkembangan pribadi, pengakuan sosial, hubungan dengan leluhur hingga pengetahuan yang diperoleh selama proses inisiasi.
Bagi sebagian peserta, menjalani ritual menjadi bagian penting dari identitas budaya mereka.
Seseorang yang belum melewati proses tersebut secara tradisional dapat dipandang berbeda dari laki-laki yang telah menyelesaikannya.
Karena itu, keputusan mengikuti Ulwaluko tidak selalu bisa dipahami hanya sebagai keputusan medis mengenai sunat.
Ada konsekuensi sosial dan budaya di dalamnya.
Tradisi yang Sangat Tertutup
Salah satu alasan Ulwaluko sering menimbulkan rasa penasaran adalah sifat ritualnya yang relatif tertutup.
Tidak semua informasi boleh dibicarakan kepada orang luar.
Beberapa peneliti bahkan harus membatasi data yang mereka dokumentasikan agar tidak mengungkap aspek yang dianggap rahasia oleh masyarakat.
Dalam penelitian mengenai peserta Ulwaluko yang hidup dengan HIV, misalnya, peneliti secara khusus hanya mendokumentasikan aspek kesehatan yang tidak bersifat rahasia.
Ketika peserta menggunakan bahasa rahasia atau membicarakan aspek sensitif dari ritual, bagian tersebut tidak ditranskripsikan.
Kondisi ini penting dipahami ketika menemukan video atau cerita mengenai Ulwaluko di internet.
Video mungkin memperlihatkan sebagian proses, tetapi belum tentu memberikan konteks keseluruhan mengenai apa yang sedang dilakukan dan mengapa hal tersebut memiliki makna bagi pesertanya.
Sisi Gelapnya: Ketika Ritual Berakhir di Rumah Sakit
Nilai budaya Ulwaluko tidak menghilangkan fakta bahwa pelaksanaan inisiasi yang tidak aman dapat menyebabkan komplikasi serius.
Dokumentasi medis selama bertahun-tahun mencatat kasus infeksi, perdarahan, dehidrasi, kerusakan jaringan, amputasi hingga kematian dalam praktik sunat tradisional di Afrika bagian selatan.
Sebuah penelitian mengenai praktik sunat tradisional di Eastern Cape bahkan mencatat bahwa penggunaan alat yang tidak steril pada banyak peserta pernah menjadi salah satu faktor risiko.
Praktik pembatasan cairan yang ekstrem selama masa pengasingan juga pernah dilaporkan.
Secara tradisional, pembatasan cairan dipercaya dapat membantu mengurangi keluarnya cairan dari luka. Namun, dari perspektif medis, dehidrasi berat justru dapat meningkatkan risiko komplikasi.
Ketika infeksi serius dan dehidrasi terjadi bersamaan, konsekuensinya dapat menjadi sangat berbahaya.
Masalah lainnya adalah terlambat mencari pertolongan medis.
Jika pergi ke rumah sakit dianggap sebagai tanda bahwa proses inisiasi gagal, peserta mungkin mencoba bertahan terlalu lama sebelum meminta bantuan.
Kondisi seperti inilah yang membuat komplikasi yang sebenarnya bisa ditangani menjadi jauh lebih serius.
Puluhan Peserta Masih Meninggal pada 2026
Masalah keselamatan Ulwaluko dan praktik inisiasi tradisional lainnya bukan sekadar cerita masa lalu.
Pada musim inisiasi musim dingin Afrika Selatan tahun 2026, pemerintah kembali melaporkan korban.
Data sementara pemerintah hingga 12 Juli 2026 mencatat 35 peserta meninggal dunia dalam customary initiation secara nasional.
Sebanyak 75 peserta harus dirawat di rumah sakit.
Pemerintah juga menemukan 58 sekolah inisiasi ilegal, dengan 42 di antaranya telah ditutup. Sebanyak 180 peserta berhasil diselamatkan, sementara aparat membuka 150 kasus kriminal dan melakukan 40 penangkapan.
Perlu diperhatikan bahwa angka tersebut merupakan data customary initiation secara nasional, bukan statistik khusus masyarakat Xhosa atau Ulwaluko saja.
Pembedaan ini penting agar masalah pada praktik inisiasi ilegal di Afrika Selatan tidak secara keliru dilekatkan seluruhnya kepada satu komunitas.
Pemerintah Afrika Selatan sendiri menekankan bahwa tradisi inisiasi tetap merupakan praktik budaya yang dihormati.
Yang menjadi sasaran penindakan adalah pelaksanaan yang ilegal dan membahayakan peserta.
Sekolah Inisiasi Ilegal Menjadi Masalah Besar
Salah satu persoalan serius adalah munculnya sekolah inisiasi yang beroperasi tanpa izin atau tidak memenuhi standar keselamatan.
Masalahnya bisa menjadi semakin rumit karena ada pihak yang memanfaatkan tradisi untuk keuntungan finansial.
Customary Initiation Act Afrika Selatan bahkan mengakui persoalan tersebut. Dalam latar belakang pembentukan undang-undang itu, pemerintah mencatat bahwa praktik inisiasi pernah disalahgunakan sehingga mengakibatkan cedera serius dan kematian, sementara sebagian sekolah didirikan terutama demi keuntungan.
Karena itu, sekolah inisiasi sekarang harus diregulasi.
Traditional surgeon dan pihak yang merawat peserta juga tidak bisa sembarangan.
Pemerintah meminta keluarga memastikan sekolah inisiasi terdaftar dan praktisi yang terlibat memiliki otorisasi sesuai aturan.
Peserta juga memiliki hak terhadap peralatan yang bersih dan higienis.
Jadi, gambaran bahwa pemerintah Afrika Selatan hanya membiarkan tradisi berjalan tanpa pengawasan sudah tidak tepat.
Afrika Selatan Memilih Mengatur, Bukan Menghapus
Menariknya, respons pemerintah bukan menghapus tradisi inisiasi.
Afrika Selatan justru mencoba menciptakan sistem yang memungkinkan tradisi terus berlangsung dengan standar keselamatan lebih tinggi.
Pada 2021, negara tersebut memberlakukan Customary Initiation Act.
Undang-undang tersebut menyediakan kerangka nasional untuk mengatur customary initiation, sekolah inisiasi, praktisi serta pengawasan pelaksanaannya.
Ada National Initiation Oversight Committee serta Provincial Initiation Coordinating Committees.
Sekolah inisiasi harus memenuhi persyaratan tertentu.
Pemerintah daerah, tenaga kesehatan, aparat dan pemimpin tradisional juga dilibatkan dalam pengawasan.
Pendekatan tersebut mencerminkan persoalan yang cukup kompleks.
Menghapus tradisi begitu saja dapat dianggap mengabaikan hak masyarakat mempertahankan kebudayaannya.
Namun, membiarkan praktik berbahaya atas nama tradisi juga tidak dapat dibenarkan ketika nyawa peserta dipertaruhkan.
Karena itu, jalan tengahnya adalah mempertahankan nilai budaya sambil mengurangi praktik yang membahayakan.
Bisakah Ulwaluko Dibuat Lebih Aman Tanpa Kehilangan Maknanya?
Pertanyaan ini telah menjadi perdebatan selama bertahun-tahun.
Dari perspektif kesehatan, ada beberapa hal yang tampak jelas.
Peralatan harus steril. Praktisi perlu memahami komplikasi. Peserta harus mendapatkan cukup cairan. Luka perlu dirawat secara higienis. Ketika terjadi infeksi atau kondisi darurat, akses terhadap pelayanan medis tidak boleh ditunda.
Namun, penerapannya tidak selalu sederhana.
Jika sebuah intervensi medis dianggap mengubah makna ritual, sebagian masyarakat mungkin menolaknya.
Karena itu, program keselamatan yang hanya datang dari tenaga kesehatan tanpa melibatkan pemimpin adat berpotensi mengalami resistensi.
Penelitian mengenai sunat tradisional di Eastern Cape pernah menguji pendekatan yang justru bekerja bersama praktisi tradisional.
Tujuannya bukan menggantikan tradisi dengan prosedur rumah sakit, melainkan meningkatkan keselamatan di dalam kerangka ritual yang sudah ada.
Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa tradisi dan kedokteran modern sebenarnya tidak selalu harus menjadi lawan.
Mengapa Ulwaluko Tetap Bertahan?
Kalau sebuah tradisi memiliki risiko, mengapa orang masih menjalaninya?
Jawabannya kembali pada makna Ulwaluko itu sendiri.
Bagi masyarakat yang mempertahankannya, ritual ini bukan aktivitas yang dilakukan hanya karena “orang zaman dahulu melakukannya”.
Ulwaluko berhubungan dengan identitas.
Ia menghubungkan seorang laki-laki dengan keluarga, komunitas, generasi sebelumnya dan pemahaman mengenai siapa dirinya dalam masyarakat.
Penelitian terhadap laki-laki Xhosa menunjukkan bahwa walaupun mereka mengetahui adanya risiko dalam praktik sunat tradisional, banyak yang tetap menganggap proses inisiasi tersebut penting dan bernilai.
Bahkan sebagian peserta mendukung intervensi pemerintah untuk meningkatkan keselamatan tanpa menginginkan tradisinya dihapus.
Dari sinilah kita bisa melihat mengapa perdebatan mengenai Ulwaluko jauh lebih rumit daripada pertanyaan “aman atau tidak aman”.
Antara Maskulinitas, Rasa Sakit dan Dunia Modern
Ada satu aspek Ulwaluko yang juga mulai mendapat perhatian lebih kritis: hubungan antara rasa sakit dan konsep maskulinitas.
Gagasan bahwa seorang laki-laki tidak boleh menunjukkan rasa sakit bukan hanya ada dalam budaya Xhosa.
Dalam banyak masyarakat, laki-laki sering dibesarkan dengan pesan untuk terlihat kuat, tidak menangis dan menahan penderitaan.
Dalam konteks ritual tradisional, nilai tersebut bisa menjadi jauh lebih kuat.
Masalah muncul ketika keberanian diterjemahkan menjadi keengganan meminta pertolongan.
Seseorang dengan infeksi serius mungkin mencoba bertahan karena takut dianggap lemah.
Peserta yang membutuhkan obat bisa merasa khawatir bahwa pengobatan modern membuat proses inisiasinya dianggap tidak sempurna.
Penelitian terhadap peserta Ulwaluko dengan HIV menemukan contoh peserta yang menyembunyikan penggunaan obat atau bahkan menghentikan sementara pengobatan karena tekanan semacam ini.
Karena itu, modernisasi Ulwaluko tidak hanya menyangkut penggunaan alat yang steril.
Cara masyarakat memahami keberanian dan kesehatan juga menjadi bagian dari pembicaraan.
Meminta pertolongan ketika kondisi tubuh berbahaya tidak harus berarti seseorang gagal menjadi laki-laki.
Ulwaluko Bukan Sekadar “Sunat Ekstrem”
Melihat Ulwaluko hanya dari potongan video prosedur sunat dapat memberikan gambaran yang sangat berbeda dari makna sebenarnya.
Ya, sunat tradisional merupakan bagian dari ritual.
Ya, rasa sakit secara historis memiliki makna dalam pembentukan konsep keberanian.
Dan ya, praktik yang tidak aman telah menyebabkan cedera serius bahkan kematian.
Namun, Ulwaluko juga merupakan tradisi berusia panjang yang memiliki fungsi sosial, pendidikan dan identitas bagi masyarakat amaXhosa.
Itulah sebabnya pemerintah Afrika Selatan tidak sekadar mengatakan tradisi tersebut harus dihentikan.
Tantangannya justru lebih sulit: bagaimana mempertahankan warisan budaya sambil memastikan generasi berikutnya tidak harus mempertaruhkan nyawa untuk menjalaninya.
Pada September 2026, pemerintah lokal dan otoritas kesehatan di Western Cape masih mengadakan pelatihan mengenai kesehatan lingkungan dan keselamatan Ulwaluko menjelang musim inisiasi berikutnya.
Artinya, tradisi ini tidak sedang menghilang.
Ia sedang bernegosiasi dengan dunia modern.
Dan mungkin di situlah bagian paling menarik dari cerita Ulwaluko.
Bukan pada seberapa sakit prosedurnya atau seberapa mengejutkan videonya bagi orang luar, tetapi pada bagaimana sebuah tradisi yang telah diwariskan selama beberapa generasi mencoba mempertahankan identitasnya ketika standar kesehatan, hukum dan pandangan mengenai maskulinitas terus berubah.
Referensi
South African Government. Male Initiations.
https://www.gov.za/issues/male-initiations
South African Government. Customary Initiation Act 2 of 2021.
https://www.gov.za/documents/acts/customary-initiation-act-2-2021-english-siswati-04-jun-2021
Department of Cooperative Governance and Traditional Affairs South Africa. Minister Hlabisa Calls for Greater Collaboration as 2026 Winter Initiation Death Toll Rises to 35, 14 Juli 2026.
https://www.cogta.gov.za/index.php/2026/07/14/minister-hlabisa-calls-for-greater-collaboration-as-2026-winter-initiation-death-toll-rises-to-35-2/
South African Government. Minister Velenkosini Hlabisa on Meeting with Customary Initiation Experts to Prevent Initiation-Related Fatalities, 11 Februari 2026.
https://www.gov.za/news/media-statements/minister-velenkosini-hlabisa-meeting-customary-initiation-experts-prevent
National Center for Biotechnology Information. Rite of Passage: An African Indigenous Knowledge Perspective.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK601351/
National Library of Medicine. Gay Xhosa Men’s Experiences of Ulwaluko (Traditional Male Initiation).
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5062045/
National Library of Medicine. Young Men’s Engagement with HIV Treatment and Care During Ulwaluko (Traditional Initiation and Circumcision) in the Eastern Cape Province of South Africa.
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8049467/
National Library of Medicine. Traditional Male Circumcision in Eastern and Southern Africa: A Systematic Review of Prevalence and Complications.
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2995181/
BMC Public Health. Traditional Circumcision During Manhood Initiation Rituals in the Eastern Cape, South Africa: A Pre-Post Intervention Evaluation.
https://link.springer.com/article/10.1186/1471-2458-8-64
National Library of Medicine. An Exploration of the Knowledge, Attitudes and Beliefs of Xhosa Men Concerning Traditional Circumcision.
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5645564/
Garden Route District Municipality. Environmental Health Information Session on Ulwaluko Preparedness, 23 September 2026.
https://www.gardenroute.gov.za/2026/09/23/23-september-2026-media-release-grdm-hosts-environmental-health-information-session-on-ulwaluko-preparedness/
