Peringati Hari Sungai Sedunia, Alat Musik dari Limbah Diluncurkan di Bondowoso

Sungai

Peringatan Hari Sungai Sedunia 2026 di Bondowoso menjadi momentum untuk mengajak masyarakat melihat sampah dengan cara berbeda, termasuk melalui pemanfaatan limbah menjadi karya kreatif seperti alat musik. Kegiatan di kawasan Bendungan Sampean Baru pada Sabtu, 26 September 2026, juga diisi riset kualitas air, edukasi lingkungan, serta aksi bersih-bersih yang melibatkan pemerintah, komunitas, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat.

eskicanakkale – Peringatan Hari Sungai Sedunia di Bondowoso diwarnai peluncuran alat musik dari limbah sebagai bagian dari kampanye menjaga lingkungan dan mengurangi sampah. Pemanfaatan barang yang sebelumnya dianggap tidak berguna menjadi alat musik membawa pesan bahwa sampah masih dapat memiliki nilai ketika dikelola dengan kreativitas.

Momentum lingkungan tersebut berlangsung di kawasan Bendungan Sampean Baru, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, pada Sabtu, 26 September 2026. Kegiatan melibatkan ECOTON bersama komunitas Sarka Space Bondowoso serta berbagai unsur pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, komunitas, dan masyarakat.

Peringatan tersebut tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Tim juga melakukan pengujian kualitas air yang menemukan mikroplastik dan kadar fosfat melebihi baku mutu di sejumlah titik Bendungan Sampean Baru.

Pemanfaatan limbah menjadi alat musik menawarkan pendekatan berbeda dalam menyampaikan pesan lingkungan. Sampah yang biasanya berakhir di tempat pembuangan atau bahkan masuk ke sungai dapat diolah menjadi benda yang mempunyai fungsi baru.

Karya semacam ini juga dapat menjadi sarana edukasi yang mudah diterima masyarakat, terutama generasi muda. Pesan mengenai pengurangan sampah tidak hanya disampaikan melalui seminar dan poster, tetapi juga melalui karya kreatif yang bisa dilihat, disentuh, dan dimainkan.

Peluncuran alat musik berbahan limbah dalam momentum Hari Sungai Sedunia sekaligus mengingatkan bahwa persoalan sampah berkaitan erat dengan kondisi sungai. Sampah yang tidak dikelola dari sumbernya berpotensi terbawa saluran air hingga akhirnya mencemari sungai, bendungan, dan wilayah perairan lainnya.

Secara global, World Rivers Day atau Hari Sungai Sedunia diperingati pada Minggu keempat bulan September. Pada 2026, peringatan tersebut jatuh pada Minggu, 27 September.

Gerakan World Rivers Day bertujuan meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya sungai sekaligus mendorong masyarakat berperan dalam menjaga dan memulihkan kondisi perairan. Peringatan ini berkembang dari gagasan advokat sungai asal Kanada, Mark Angelo.

Di Bondowoso, rangkaian kegiatan dilaksanakan sehari sebelumnya, yakni Sabtu, 26 September 2026. Bendungan Sampean Baru dipilih menjadi salah satu lokasi kegiatan lingkungan sekaligus pengujian kondisi perairan.

ECOTON dan Sarka Space Gelar Aksi di Bondowoso

ECOTON dan Sarka Space bukan pertama kali menggelar kegiatan Hari Sungai Sedunia di Bondowoso. Pada 2025, kedua kelompok tersebut mengadakan aksi bersih-bersih Sungai Selokambang bersama sekitar 130 pegiat lingkungan.

Dalam kegiatan 2025 tersebut, sebanyak 33 sak sampah dengan berat sekitar 619,95 kilogram berhasil dikumpulkan. Audit terhadap 6.997 lembar sampah plastik menunjukkan tas kresek mendominasi sekitar 51 persen, sementara saset kopi sekitar 14 persen.

Pada 2026, perhatian kemudian diarahkan antara lain ke kawasan Bendungan Sampean Baru. Selain mengampanyekan pengurangan sampah, penyelenggara membawa laboratorium bergerak untuk mengetahui kondisi pencemaran secara lebih terukur.

Laboratorium Mikroplastik

Sungai

ECOTON membawa Microplastic Mobile Laboratory (MIMO) dalam kegiatan di Bendungan Sampean Baru. Laboratorium bergerak tersebut digunakan untuk mengambil dan menguji sampel air guna mengetahui keberadaan mikroplastik.

Dari sampel air sebanyak 10 liter, tim mengidentifikasi 25 partikel mikroplastik. Partikel tersebut terdiri dari 11 fiber, delapan fragmen, dan enam filamen.

Temuan itu memperlihatkan persoalan sampah tidak berakhir ketika plastik tidak lagi terlihat dengan mata telanjang. Plastik yang mengalami degradasi dapat berubah menjadi partikel berukuran sangat kecil dan tetap berada di lingkungan.

Mikroplastik Ditemukan di Bendungan Sampean Baru

Peneliti ECOTON Sofi Azilan menjelaskan mikroplastik dapat berasal dari berbagai aktivitas manusia. Fiber antara lain dapat berasal dari pelepasan serat pakaian saat pencucian, sedangkan fragmen dan filamen dapat terbentuk dari degradasi berbagai produk plastik.

Hal tersebut membuat pengendalian sampah dari sumber menjadi penting. Plastik yang telanjur memasuki lingkungan dapat terfragmentasi dan jauh lebih sulit ditangani setelah berubah menjadi partikel berukuran mikro.

Kondisi inilah yang membuat kampanye pemanfaatan kembali limbah mempunyai konteks lebih luas. Mengurangi barang sekali pakai, menggunakan kembali material, serta memilah sampah dapat membantu menekan potensi kebocoran plastik ke lingkungan.

Pengujian di Bendungan Sampean Baru tidak hanya menemukan mikroplastik. Tim ECOTON juga melakukan pengukuran kadar fosfat dan menemukan seluruh titik pengujian telah berada di atas baku mutu yang digunakan dalam pengujian tersebut.

Konsentrasi tertinggi ditemukan di bagian tengah waduk dengan angka 3,9 ppm. Menurut ECOTON, angka tersebut mencapai 19,5 kali dibandingkan baku mutu 0,2 ppm yang menjadi acuan mereka.

Peneliti ECOTON Rafika Aprilianti menjelaskan tingginya nutrien seperti fosfat dapat mendorong eutrofikasi atau pertumbuhan tumbuhan air secara berlebihan. Keberadaan eceng gondok di permukaan Bendungan Sampean Baru juga menjadi kondisi yang menurutnya perlu terus dipantau.

Menurut ECOTON, tingginya fosfat dapat berkaitan dengan berbagai sumber pencemar di wilayah tangkapan air. Limbah cair domestik, sisa deterjen rumah tangga, limpasan pupuk pertanian, dan buangan peternakan termasuk sumber yang perlu diperhatikan.

Karena itu, membersihkan sampah yang sudah berada di sungai atau bendungan hanya menjadi salah satu bagian dari solusi. Pencegahan pencemaran perlu dilakukan sejak dari sumber sebelum limbah masuk ke saluran air.

Pengelolaan air limbah domestik, penggunaan produk yang lebih ramah lingkungan, pengendalian limpasan pupuk, serta pemantauan kualitas air secara berkala menjadi beberapa langkah yang disampaikan ECOTON.

Di tengah temuan mengenai pencemaran tersebut, kehadiran alat musik dari limbah membawa pendekatan edukasi yang lebih kreatif. Material bekas tidak hanya dipandang sebagai benda yang harus dibuang, tetapi dapat menjadi bahan untuk menciptakan sesuatu yang baru.

Konsep ini sejalan dengan prinsip penggunaan kembali atau reuse. Semakin panjang usia penggunaan suatu barang, semakin kecil pula kebutuhan untuk langsung menjadikannya sebagai sampah.

Alat musik dari limbah juga dapat menjadi simbol sederhana dari ekonomi sirkular. Barang yang kehilangan fungsi awal tidak harus otomatis kehilangan seluruh nilainya apabila masih dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lain.

Seni Bisa Menjadi Media Edukasi Sampah

Kampanye lingkungan sering menghadapi tantangan dalam menjangkau masyarakat luas. Informasi ilmiah mengenai mikroplastik, fosfat, kualitas air, atau pengelolaan limbah terkadang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.

Seni dapat menjadi jembatan untuk menyampaikan persoalan tersebut dengan cara yang lebih dekat. Alat musik dari limbah, misalnya, dapat memancing rasa ingin tahu sebelum masyarakat diajak memahami persoalan sampah yang lebih kompleks.

Pendekatan kreatif juga berpotensi menarik perhatian anak-anak dan remaja. Mereka dapat belajar bahwa menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dengan kegiatan besar, tetapi dapat melalui kebiasaan mengurangi, memilah, dan memanfaatkan kembali barang.

Peringatan Hari Sungai Sedunia di Bendungan Sampean Baru melibatkan berbagai kelompok pelajar dan mahasiswa. Peserta antara lain berasal dari Universitas Jember, Politeknik Negeri Jember, SMKN 4 Bondowoso, SMAN 1 Bondowoso, SMAN 2 Bondowoso, SMAN 3 Bondowoso, dan SMKN Tapen.

Keterlibatan generasi muda mempunyai posisi penting dalam kampanye lingkungan. Mereka bukan hanya menjadi peserta kegiatan, tetapi dapat membawa kebiasaan pengelolaan sampah ke sekolah, kampus, keluarga, dan komunitas masing-masing.

Pendidikan lingkungan yang disertai pengalaman langsung juga memberikan gambaran nyata mengenai kondisi sungai. Peserta dapat melihat proses pengambilan sampel, pengujian kualitas air, hingga aksi membersihkan sampah di kawasan bendungan.

Pemerintah Bondowoso Dukung Gerakan Jaga Sungai

Kegiatan dibuka Asisten II Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Bondowoso Hendri Widodo yang hadir mewakili Bupati Bondowoso. Pemerintah daerah menyampaikan dukungan terhadap kolaborasi dalam menjaga kualitas sungai.

Hendri menekankan bahwa upaya menjaga sungai tidak dapat dilakukan satu pihak saja. Pemerintah, komunitas, dunia pendidikan, dan masyarakat perlu bekerja bersama agar perlindungan sungai dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Sejumlah instansi juga terlibat dalam rangkaian kegiatan tersebut. Di antaranya Dinas Kesehatan, Dinas Sosial P3AKB, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kominfo, Bappeda dan BRIDA Bondowoso, UPT PSDA WS Sampean Setail, Forkopimda, BBWS Brantas, serta Puskesmas Tapen.

Pengalaman Bondowoso pada peringatan Hari Sungai Sedunia sebelumnya menunjukkan persoalan sampah membutuhkan penanganan dari sumber. Setelah kegiatan pada 2025, Pemkab Bondowoso dan Sarka Space bahkan membahas strategi jangka panjang untuk mengurangi kebocoran sampah ke sungai.

Pembahasan tersebut mencakup edukasi masyarakat dan penguatan pengelolaan sampah. Pemerintah Kabupaten Bondowoso ketika itu juga menyebut adanya Surat Edaran tentang Pengelolaan Sampah Secara Mandiri sebagai turunan Perbup Pengurangan Sampah Plastik Nomor 44 Tahun 2023.

Pendekatan dari hulu menjadi penting karena membersihkan sungai tanpa mengendalikan sumber sampah dapat membuat masalah terus berulang. Sampah baru akan kembali masuk apabila pola pembuangan dan pengelolaannya tidak berubah.

Alat Musik Limbah Bukan Sekadar Karya Seni

Peluncuran alat musik berbahan limbah pada momentum Hari Sungai Sedunia dapat dibaca sebagai simbol perubahan cara pandang terhadap sampah. Material bekas tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan, apalagi dibuang ke sungai.

Namun pemanfaatan kembali sampah juga bukan satu-satunya jawaban. Pengurangan konsumsi barang sekali pakai tetap diperlukan agar jumlah limbah yang dihasilkan sejak awal dapat ditekan.

Karya kreatif dapat menjadi pintu masuk menuju pesan tersebut. Setelah masyarakat tertarik pada alat musik yang dihasilkan, diskusi dapat berlanjut pada persoalan yang lebih besar seperti pemilahan sampah, penggunaan kembali, pengurangan plastik sekali pakai, dan perlindungan sungai.

Hari Sungai Sedunia Jadi Momentum Mengubah Kebiasaan

World Rivers Day menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga sungai. Gerakan global tersebut mendorong kesadaran mengenai nilai ekologis, sosial, budaya, dan rekreasi sungai serta pentingnya pengelolaan perairan yang lebih baik.

Bagi masyarakat, perubahan dapat dimulai dari kegiatan sederhana. Mengurangi plastik sekali pakai, tidak membuang sampah ke saluran air, memilah sampah, menggunakan kembali barang, dan mengelola limbah rumah tangga merupakan beberapa contoh yang dapat dilakukan.

Kegiatan di Bondowoso memperlihatkan bahwa pesan tersebut dapat disampaikan melalui banyak cara. Penelitian memberikan data ilmiah, aksi bersih sungai menghasilkan tindakan langsung, sementara seni dan alat musik dari limbah menawarkan pendekatan kreatif.

Temuan mikroplastik dan tingginya fosfat di Bendungan Sampean Baru menunjukkan perlunya pemantauan lanjutan. Data kualitas air dapat digunakan untuk membantu mengidentifikasi sumber pencemaran dan menentukan langkah pengendalian yang sesuai.

Pemantauan juga diperlukan untuk melihat apakah kondisi lingkungan membaik setelah intervensi dilakukan. Tanpa data berkala, efektivitas kebijakan pengurangan sampah dan pengendalian limbah akan lebih sulit dinilai.

Karena itu, peringatan Hari Sungai Sedunia sebaiknya tidak berhenti sebagai kegiatan tahunan. Momentum tersebut dapat menjadi pengingat untuk menjalankan program perlindungan sungai secara konsisten sepanjang tahun.

Peringatan Hari Sungai Sedunia di Bondowoso menjadi panggung bagi kreativitas pemanfaatan limbah, termasuk melalui peluncuran alat musik berbahan barang bekas. Kegiatan tersebut membawa pesan bahwa material yang dianggap sampah masih dapat dimanfaatkan sekaligus digunakan sebagai sarana edukasi lingkungan.

Rangkaian kegiatan di Bendungan Sampean Baru pada 26 September 2026 juga mengungkap persoalan yang lebih serius. Pengujian ECOTON bersama Sarka Space menemukan 25 partikel mikroplastik dalam sampel 10 liter air serta kadar fosfat tertinggi 3,9 ppm pada titik tengah waduk.

Kombinasi antara seni, penelitian, edukasi, dan aksi lapangan membuat peringatan Hari Sungai Sedunia tidak hanya bersifat simbolis. Pesan utamanya adalah mengurangi sampah sejak dari sumber, meningkatkan pengelolaan limbah, serta melibatkan pemerintah dan masyarakat dalam menjaga sungai Bondowoso secara berkelanjutan.

Referensi

ECOTON dan Sarka Space melalui laporan kegiatan Hari Sungai Sedunia di Bendungan Sampean Baru, Bondowoso, 26 September 2026. Temuan meliputi pengujian mikroplastik, fosfat, keterlibatan peserta, dan aksi lingkungan.

ECOTON. Sarka Space Bondowoso Ajak Aksi Kecil Dampak Besar Dorong Pemilahan Sampah, Kepala DLH Kabupaten Bondowoso Ikut Bersihkan Sungai Selokambang. 28 September 2025.

Laporan audiensi Pemkab Bondowoso dan Sarka Space mengenai strategi Kampung Zero Waste dan pengurangan kebocoran sampah plastik ke sungai. 29 September 2025.

World Rivers Day. Informasi resmi mengenai kegiatan dan rangkaian World Rivers Day 2026.

Water Magazine. World Rivers Day – 27 September 2026, mengenai sejarah dan tujuan peringatan World Rivers Day.